28 Februari 2009

Brondong Beras

By : Kelik Supriyanto

Beberapa media nasional dan lokal beberapa hari ini menuliskan tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM) dan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Yogyakarta, bahwa dua jenis jajanan bagi anak-anak yang ada di arena pasar malam Sekaten, mengandung rhodamin B yaitu zat kimia berbahaya yang biasa digunakan sebagai pewarna merah muda bahan tekstil dan kertas.

Kedua jajanan itu adalah brondong beras dan arum manis. Makanan yang warnanya merah cerah ini sangat disukai oleh anak-anak, karena rasanya yang manis dan warnanya menarik. Ternyata kandungan rhodamin B ini bila dikonsumsi terus-menerus akan tertimbun di jaringan hati dan lemak sehingga dapat menimbulkan kanker hati. Kalau makanan warnanya cerah, rasanya agak pahit, terasa gatal di tenggorokan kalau dimakan, baunya tidak alami, ada kemungkinan terindikasi pakai pewarna beracun ini.

Brondong beras ini dikemas dalam dua bentuk. Ada yang dimasukkan dalam plastik memanjang seperti ular dan ada yang dibuat menyerupai bentuk sepeda motor. Harganya berkisar antara 3 ribu rupiah sampai 7 ribu rupiah. Bagi para penggemar mainan anak-anak tradisional, jenis jajanan yang sekaligus bisa digunakan untuk mainan ini layak untuk dikoleksi. Apalagi, hanya muncul setahun sekali di arena sekaten. Mumpung belum dilarang. Tentunya hanya untuk klangenan saja.

Makanan dari beras ini masih sering dijumpai di pasar tradisional dalam bentuk bulatan kecil-kecil dan dikemas dalam bungkus plastik berisi 10 buah. Berwarna coklat dan putih. Biarpun berbentuk seperti bola tapi tidak untuk mainan karena begitu bungkus dibuka akan langsung masuk mulut. Terlalu lama dibiarkan ditempat terbuka, brondong ini akan melempem dan tidak enak lagi dimakan. Rasanya sangat legit oleh gula merah yang menyelimutinya. Makanya beli yang berwarna putih karena tanpa pewarna.

Pembuatannya dengan cara dioven dalam wajan yang panas dan diaduk-aduk terus agar panasnya merata dan tidak hangus. Setelah semua beras mengembang, dicampurlah dengan gula dan dicetak sesuai bentuk yang diinginkan.

Hati-hatilah dengan makanan, agar badan tetap sehat supaya bisa jalan-jalan, makan-makan, motret-motret dan hunting mainan tradisional.

23 Februari 2009

Ciple Gunung

By : Rini Lestari

Permainanku waktu kecil yang paling aku ingat sampai sekarang adalah Ciple Gunung. Bersama-sama teman kecilku sekitar 5 anak biasa main di halaman SD-ku di kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat.

Untuk menentukan urutan terlebih dahulu kita lakukan hompimpah. Tiap anak harus punya gacoan berupa batu atau pecahan genting. Permainan dimulai dengan melempar gacoan di kotak terendah. Batu yang dilempat tidak boleh keluar garis dan harus di dalam kotak. Bila batu tidak masuk kotak dianggap mati dan diganti oleh urutan berikutnya.

Bila batu sudah masuk kotak, pemain harus lompat dengan satu kaki dan tidak boleh menyentuh batu gacoan. Pada kotak ganda, no 4-5 dan 7-8, kaki langsung dua tanpa loncat. Setelah sampai puncak, kembali ke titik awal sambil mengambil batu gacoannya.

Kalau batu gacoan udah nyampe gunung, yaitu no 9. Ambil batunya dengan membelakangi batu tersebut dengan diraba-raba. Abis itu lembar batu ke atas gunung, kaki di no 7-8 lompat dan injak batu itu. Setelah batu diambil lempar ke titik awal.

Pemain lompat lagi ke arah batu. Kalau sudah selesai pemain akan dapat bintang pada kotak sesuai urutan nomor. Yang ada bintangnya dianggap sebagai rumahnya sendiri dan pemain lain tidak boleh melewati. Kalau pemainnya terlalu banyak atau salah satu pemain belum punya bintang, sehingga tidak bisa meloncati beberapa kotak maka boleh dibuat jalan alternatif atau tangga alternatif agar pemain itu dapat menjangkau lompatannya.

Kalau seluruh kotak sudah ada bintangnya, tetapi mau masih main lagi maka bagian teratas yaitu bagian gunung bisa dibelah menjadi dua bagian agar masih bisa loncat dan dibuat gunung baru diatasnya.

Itulah permainan Ciple Gunung atau disebut juga Gunung-gunungan.

21 Februari 2009

Gambar Umbul

By : Kelik Supriyanto

Dinamakan gambar umbul karena dalam permainan ini gambar yang diadu harus dilempar keudara. Gambar yang menang adalah gambar yang tengadah kelihatan gambarnya dan yang kalah adalah gambar yang telungkup tidak terlihat gambarnya. Gambar umbul yang terkumpul terus dijepit diantara jari tengah dan telunjuk dan dijentikkan ke udara sehingga semua gambar berterbangan. Seluruh peserta berdebar-debar menunggu gambar jagoannya jatuh di permukaan tanah. Jumlah taruhan tergantung kesepakatannya. Semakin banyak jumlah taruhan, maka yang ikut main biasanya juga semakin sedikit, yang lainnya hanya menonton. Biar rame dan berlangsung lama biasanya jumlah taruhannya cukup satu gambar umbul saja.

Sebelum dimainkan gambar umbul lembaran harus dipotong kecil-kecil sesuai dengan gambar yang ada. Gambar wayang merupakan gambar favorit saya yang terdiri dari 36 gambar. Berisi tokoh-tokoh pewayangan dan beberapa hewan. Nomor 1 dimulai dengan gambar gunungan, nomor 2 - 30, gambar tokoh pewayangan, ada Pandu, Abiasa, Cakil, Baladewa, Puntadewa, Burisrawa, Dursasana, Semar, Petruk, dll. Nomor 31- 36 gambar hewan, ada garuda, menjangan, gajah, naga, banteng, dan macan.

Setiap anak memiliki tokoh idolanya masing-masing. Anak yang suka berkelahi akan memilih Bratasena karena tokoh ini selalu menang dalam peperangan. Anak yang pingin dianggap ganteng oleh teman-temannya akan memilih Arjuna. Gajah akan dipilih oleh anak yang paling gemuk. Anak paling kurus akan pilih gareng. Kadang gambar idola itu akan menjadi nama panggilannya sehingga sampai dewasa masih dipanggil sebagai si gareng atau si bagong.

Gambar umbul idola saya dulu yaitu gambar banteng. Posisi banteng yang siap menanduk dan ekor yang terangkat keatas merupakan gambaran banteng yang sedang marah. Banteng mengingatkan akan kerbau jantan milik paman saya yang suka menanduk kalau diganggu. Sedang kerbau yang betina sangat jinak sehingga kalau saya naiki akan tenang saja dan membawa kita kemanapun kerbau itu pergi untuk makan rumput. Ya, masa lalu memang ada yang indah untuk kita kenang dan ada yang buruk untuk kita lupakan.

Agar gambar umbul yang kita pilih selalu menang, banyak cara dilakukan. Dari cara curang sampai cara mistik. Cara curang dilakukan dengan cara mengelem dua gambar umbul yang sama gambarnya sehingga tidak bisa kalah karena dikedua sisinya ada gambarnya. Kadang kalau ketahuan bisa menimbulkan perkelahian dengan pihak yang kalah. Yang sedikit agar curang yaitu ketika kita dapat giliran mengundi, gambar jagoan kita cekungkan pada bagian gambar sehingga ketika jatuh ke tanah mempunyai peluang untuk menang, tidak tengkurap.

Cara paling unik yaitu dengan cara mistik. Beberapa teman yang pingin jagoannya selalu menang, dia mendatangi nisan dikuburan dan gambar jagoannya ditindih dengan hiasan batu nisan yang berupa kuncup bunga itu. Kadang butuh dua anak untuk bisa mengangkat batu tersebut. Baru keesokan harinya gambar umbul tersebut diambil dan berharap ada pertolongan dari alam arwah agar gambar umbulnya selalu menang ketika diadu.

Saya termasuk sering menang kalau taruhan dengan gambar umbul. Saya kelompokkan antara gambar umbul yang masih bagus dengan yang sudah kusut. Yang sudah kusut ditali dengan karet gelang dan yang masih bagus saya simpan dirumah. Kalau ada yang ngajak taruhan lagi, gambar umbul yang kusut tersebut yang saya jadikan taruhan.

Seiring semakin populernya cerita anak-anak di televisi. Gambar umbul wayang mulai tersisih oleh gambar umbul bergambar cerita komik semisal Batman, Bionic Woman, Tarzan, Gundala, Lucan, Robinhood, The Six Million Dolar Man, Flash Gordon, Rin Tin Tin, dan lainnya.

Tapi, kemana permainan gambar umbul itu sekarang ? Bagaimana kalau tanda gambar peserta pemilu 2009 itu kita gunakan sebagai gambar umbul. Mungkin banyak politisi kita yang akan ikut bermain. Anda, setuju ?