Tampilkan postingan dengan label dilempar ke atas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dilempar ke atas. Tampilkan semua postingan

21 Mei 2009

Bekelan

By Nella A.P.

Bekelan berasal dari bahasa Belanda, bikkelen. Permainan ini masih saudara dengan gathengan. Kalau gathengan hanya menggunakan batu kerikil, bekelan menggunakan seperangkat alat khusus yang dinamakan bekel. Bekel ini terdiri dari sebuah bola bekel dan lima buah biji bekel berbentuk logam. Ada yang terbuat dari kuningan, dan ada yang terbuat dari bahan timah.

Pada awalnya biji bekel dibuat dari engsel tulang tumit kaki belakang domba. Sekarang dibuat dari logam. Bentuk biji bekel nyaris seragam di berbagai negara. Tidak mengalami perubahan sejak dahulu. Terdiri dari empat biji bekel dan satu bola bekel.

Logam ini memiliki bentuk yang khas. Terdiri dari permukaan kasar yang ditandai dengan lubang-lubang kecil di permukannya berjumlah lima titik, permukaan halus yang ada tanda silang atau polos sama sekali, permukaan atas yang ada bintik merahnya, dan permukaan bawah yang tidak ada tanda catnya.

Permainan ini dilakukan dengan cara menyebar dan melempar bola ke atas dan menangkapnya setelah bola memantul sekali di lantai. Kalau bola tidak tertangkap atau bola memantul beberapa kali maka pemain dinyatakan mati.

Pertama, pemain menggenggam seluruh biji bekel dan menyebar seluruhnya ke lantai sambil melemparkan bola bekel ke atas dan menangkapnya. Biji bekel diambil satu-satu sampai habis. Ulangi lagi menyebar seluruh biji bekel dan diambil 2 biji bekel, diambil dengan 3 biji bekel, diambil 4 biji bekel, terakhir lima biji bekel diraup sekaligus.

Langkah kedua, Balik posisi bekel menghadap ke atas semua satu persatu. Ulangi terus sampai seluruh permukaan bekel menghadap ke atas semua. lalu ambil satu bekel, ambil 2 biji bekel, ambil 3 biji bekel, ambil 4 biji bekel, terakhir raup seluruh biji bekel.

Langkah ketiga , balik posisi biji bekel menghadap kebawah dan ulangi langkah sepertei langkah kedua dengan mengambil biji bekel 1, 2, 4, dan seluruhnya.

Langkah keempat, balik seluruh posisi bekel bagian permukaan yang halus menghadap ke atas lalu ambil biji bekel seperti langkah ketiga.

Langkah kelima, balik posisi bekel posisi permukaan kasar menghadap ke atas semua, lalu ambil biji bekel seperti langkah sebelumnya,

Langkah terakhir dinamakan Nasgopel. Balik posisi biji bekel mengahadap ke atas semua, kemudian balik lagi semuanya menghadap kebawah semua, terus permukaan halus menghadap ke atas semua, dan terakhir balik satu persatu permukaan kasarnya menghadap ke atas semua. Raup seluruh biji bekel dalam sekali genggaman. Bila ada kesalahan dalam langkah nasgopel ini pemain harus mengulang ke langkah awal nasgopel. Pemain yang bisa melewati tahap ini dinyatakan sudah menang dan berhak untuk istirahat sambil menonton teman-temannya yang belum bisa menyelesaikan permainan.

Namun ada juga beberapa temanku di Patalan, Bantul, Yogyakarta yang menganggap bahwa permainan ini belum selesai. Dan masih harus melakukan satu tahapan lagi. Sebuah bekel diletakkan di pangkal jempol, lemparkan satu biji bekel tersebut bersamaan dengan melempar bola bekel. tangkap biji bekel tersebut sambil mengambil biji bekel yang ada dilantai, baru tangkap bola yang telah memantul sat kali. kemudian melakukan lagi permainan dari awal sampai tahap nasgopel. Barulah dianggap menang.

Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak perempuan, minimal dua orang. Kalau sudah bermain bekelan ini rasanya jadi lupa waktu karena pikiran terkonsentrasi untuk tidak melakukan kesalahan ketika bermain. Jika temannya banyak maka menunggu giliran merupakan hal yang menjengkelkan, sehingga kadang berharap agar temannya melakukan kesalahan dan segera dapat giliran main.

Paling sebel kalau ditonton oleh anak laki-laki. Mereka biasanya mengganggu agar hilang konsentrasi dan melakukan kesalahan. Kalau ada yang mati mereka akan teriak kegirangan.

24 Maret 2009

Piceng

By Ayu Sartika Hiasyah

Piceng berasal dari bahasa Makasar yang berarti tutup botol. Cara bermainnya yaitu sediakan 5 atau 7 tutup botol. Setiap pemain bersama-sama menentukan poin final tertinggi, biasanya antara 20 sampai 35. Pemain minimal 2 orang. Lebih dari 2 orang dapat membentuk team. Urutan pemain dilakukan dengan pingsut.

Para pemain mengambil posisi melingkar dan menyisakan space di tengah untuk arena piceng. Pemain pertama berhak untuk menyebar piceng di tengah arena. Piceng yang sudah tersebar tidak boleh dirubah posisinya. Satu piceng diambil dari arena. Satu piceng membidik satu piceng yang lain sehingga saling berbenturan, minimal saling sentuh. Kedua piceng yang saling berbenturan disentil agar keluar dari arena. Hal yang sama dilakukan terhadap piceng yang tersisa.

Jika piceng yang disentil tidak bersentuhan dengan piceng yang lain maka dianggap gagal dan tiba giliran pemain berikutnya. Dengan sebelumnya pemain lawan berhak untuk menentukan piceng mana yang akan dibidik dan piceng untuk membidiknya.

Jika seluruh piceng dapat diselesaikan, seluruh piceng dikumpulkan dan dilempar ke atas dan ditangkap dengan posisi tangan menelungkup. Ditangkap dengan punggung telapak tangan. Setiap piceng yang tertangkap di punggung telapak tangan bernilai 1 poin. Sampai mendapat poin yang telah disepakati.

Pemain yang memperoleh poin tertinggi paling awal, kemudian memberikan utang kepada pemain yang lain dengan cara menyusun tiap piceng di lengan satu persatu dengan jarak sekitar 5 cm. Lengan lalu ditarik kebelakang sehingga semua piceng terkumpul di genggaman tangan. Piceng tersebut lalu dilempar ke udara dan ditangkap lagi dengan punggung telapak tangan. Piceng yang terkumpul di punggung telapak tangan akan mengurangi 1 poin semua lawannya.

Sebenarnya dahulu kala permainan ini menggunakan batu kerikil, akan tetapi seiring perkembangan jaman, batu kerikil mulai digantikan dengan tutup botol yang lebih pipih sehingga lebih mudah dimainkan. Teknik permainannyapun kemudian semakin berkembang. Diantaranya dengan teknik pantul. Menjadikan lengan sebagai medan pantul dalam membidik piceng sasaran. Juga teknik melompat dengan membuat piceng mampu melompat menuju sasaran.

Jika saat pertama menyebar piceng dan ternyata semua piceng menengadah keatas atau semua piceng dalam posisi tertelungkup kebawah semua, maka pemain dapat hak istimewa dengan langsung mengambil poin, tanpa perlu membidik piceng.

Jika saat menyebar piceng 3 diantaranya berada dalam posisi menengadah keatas atau telungkup kebawah maka dapat hukuman dengan cara meletakkan 3 piceng sebagai penghalang di tengah yang berjarak sejengkal dari pembidik dan berjarak 4 jari ke arah sasaran.

Itulah permainan saya sewaktu nyantri di PP Putri Ummul Mukminin di Makasar, Sulawesi Selatan.