23 Februari 2009

Ciple Gunung

By : Rini Lestari

Permainanku waktu kecil yang paling aku ingat sampai sekarang adalah Ciple Gunung. Bersama-sama teman kecilku sekitar 5 anak biasa main di halaman SD-ku di kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat.

Untuk menentukan urutan terlebih dahulu kita lakukan hompimpah. Tiap anak harus punya gacoan berupa batu atau pecahan genting. Permainan dimulai dengan melempar gacoan di kotak terendah. Batu yang dilempat tidak boleh keluar garis dan harus di dalam kotak. Bila batu tidak masuk kotak dianggap mati dan diganti oleh urutan berikutnya.

Bila batu sudah masuk kotak, pemain harus lompat dengan satu kaki dan tidak boleh menyentuh batu gacoan. Pada kotak ganda, no 4-5 dan 7-8, kaki langsung dua tanpa loncat. Setelah sampai puncak, kembali ke titik awal sambil mengambil batu gacoannya.

Kalau batu gacoan udah nyampe gunung, yaitu no 9. Ambil batunya dengan membelakangi batu tersebut dengan diraba-raba. Abis itu lembar batu ke atas gunung, kaki di no 7-8 lompat dan injak batu itu. Setelah batu diambil lempar ke titik awal.

Pemain lompat lagi ke arah batu. Kalau sudah selesai pemain akan dapat bintang pada kotak sesuai urutan nomor. Yang ada bintangnya dianggap sebagai rumahnya sendiri dan pemain lain tidak boleh melewati. Kalau pemainnya terlalu banyak atau salah satu pemain belum punya bintang, sehingga tidak bisa meloncati beberapa kotak maka boleh dibuat jalan alternatif atau tangga alternatif agar pemain itu dapat menjangkau lompatannya.

Kalau seluruh kotak sudah ada bintangnya, tetapi mau masih main lagi maka bagian teratas yaitu bagian gunung bisa dibelah menjadi dua bagian agar masih bisa loncat dan dibuat gunung baru diatasnya.

Itulah permainan Ciple Gunung atau disebut juga Gunung-gunungan.