19 Juli 2009

Putren atawa Bongkar Pasang

By Saya Monika

Bongkar Pasang adalah gambar sosok dua dimensi yang dicetak di atas kertas dan dilengkapi dengan gambar pakaian dan asesorisnya. Bisa berupa sosok pribadi, tokoh kartun, atau tokoh rekaan belaka. Ditambah pula gambar berbagai peralatan rumah tangga semisal tempat tidur, telepon dan berbagai gambar makanan. Dan, perabotan yang tidak ada dalam pola, biasanya dibuat sendiri dari kertas, plastik, atau kayu.

Di Indonesia jenis permainan ini disebut sebagai permainan Bongkar Pasang. Istilah ini berasal dari lembaran kertas permainan ini yang ada tulisannya BP (bongkar Pasang) di ujung kiri atas. Sesuai dengan namanya, gambar-gambar yang terdapat di lembaran kertas dibongkar atau digunting dahulu baru dipasang sesuai dengan keinginan kita. Di tempat saya dinamakan putren atau permainan putri, permainan khusus kaum perempuan. Di tempat lain kadang dinamakan wong-wongan, orang-orangan, BP mini, omah-omahan, rok-rokan, dsb. Di dunia dikenal sebagai boneka kertas, paper doll.

Boneka kertas ini muncul pertama kali di Paris pada abad 18, pada masa pemerintahan raja Louis XV. Awalnya berupa gambar artis yang sedang populer pada waktu itu. Diperuntukkan memang untuk permainan yang bisa dibongkar pasang alias tidak permanen. Dalam perkembangannya permainan ini menyebar keseluruh dunia dengan berbagai karakter seperti, bintang film, tokoh komik, dan yang paling populer sosok boneka barbie. Permainan ini cepat populer karena sangat mudah dibuat, murah, dan tidak perlu keahlian khusus dalam merakitnya.

Pertama kali waktu saya masih di SD Muhammadiyah I Banjarnegara, nama-nama yang tercantum di kertas putren bernama nona Shakira, Nona Christina, Marie, dll. Berbagai pakaian yang ada adalah gaun pesta, gaun ulang tahun, gaun bermain, gaun show, gaun ballet, dan gaun karaoke.

Waktu istirahat sekolah saya beli kertas putren ini di tukang jual mainan di depan sekolahan. Kemudian gambarnya saya potong-potong sesuai pola yang ada dan saya bungkus dengan kertas biar tidak berceceran. Saya biasanya pilih gambar yang wajahnya cantik-cantik. Di rumah gambar- gambar ini saya simpan di kotak sepatu, dan kami namakan lemari. Semakin banyak koleksi yang tersimpan di lemari maka dianggap paling prestisius sehingga antar anak akan saling melngkapi koleksinya. Dengan membawa almari yang berisi berbagai properti bermain inilah, sehabis makan siang saya segera mendatangi teman saya untuk diajak bermain. "Hestiiiiii, dolanan putren yuk," ajak saya.

Minimal dua orang untuk bermain putren ini. Langkah awal dalam bermain ini adalah menyusun perabotan rumah. Saya buat kursi dan meja dari kertas. Tempat tidur tinggal ambil dari kertas putren, Saya pilih pakaian yang sesuai dengan peran yang akan dimainkan. Saya pilih gambar tokoh yang saya sukai.

Bila teman-teman saya semua sudah selesai menata rumah maka tiba saatnya untuk memainkan permainan ini. Dimulai dengan bangun pagi. "Kukuruyuk," teriak teman saya menandakan bahwa pagi telah tiba. Saya segera ambil boneka kertas dan memerankannya seperti orang bangun tidur dan memasuk ke kamar mandi. "Jebur....jebur....", saya menirukan suara orang mandi. Saya pun segera menghampiri teman saya Hesti untuk saya ajak berangkat kesekolah, "Hesti, uwis esuk kie. Ayuk maring sekolah. Aja kelalen sarap ndisit. Batire kiye uwis pada nunggu maring kene."

Adegan selanjutnya adalah pulang sekolah. Saya segera masuk rumah, memasak makanan di dapur untuk makan siang. "Nyam...nyam.....," ucap saya menirukan orang makan. Dan, tidak lupa saya ambil gambar telepon menanyakan keadaan teman saya, "Kring....kring....Hallo.....hallo.....Hesti, rika lagi ngapa siki. Nyong dolan maring kana ya?" Seterusnya saya bertamu.

"Dok....dok....dok," saya mengetok pintu. "Mlebu bae Mon. Lawange ora dikunci ko," teriak dari dalam rumah. Hestipun segera menghidangkan makanan seperti es krim, sambil bertanya, "Arep ngombe apa ? Teh ana, kopi ana, susu ya ana. Ngomong bae ora sah isin-isin, kaya kuwe." Bila Hesti ulang tahun maka dia akan saya kasih gambar kalung,"Kiye kalung hadiah ulang tahun. Ditampa ya ?". Bila hendak pulang biasanya saya berujar,"Uwis sore kiye, inyong arep turu ndisit. Ngesuk inyong maring kene maning ya, Hes ?"

Permainan putren ini merupakan permainan yang memerankan seorang remaja putri dengan berbagai baju yang dikenakannya. Melatih seseorang untuk berimajinasi sesuai karakter yang sedang dimainkannya. Merangkai dialog sebagaimana kehidupan sehari-hari. Pemain diajak berkhayal untuk melakukan aktivitas kalangan menengah atas seperti shopping, pesta, dll.

Perbedaan kartu putren dahulu dan sekarang diantaranya yaitu ukuran kertasnya jaman dahulu berukuran 13 cm x 19 cm, sedang yang dijual sekarang lebih besar yaitu berukuran 17 cm x 26 cm. Untuk gambar tempat tidur, jaman dulu hanya berupa segi empat, dengan dua kasur guling, kalau sekarang gambar tempat tidurnya terkesan tiga dimensi karena digambar dari arah samping dengan dua bantal dan dua selimut. Jenis bajunya jaman dulu banyak pernik-pernik berhiasan terkesan berkilau, sedang gambar baju sekarang lebih polos dan tidak terlalu banyak aksesorisnya. Pakaian model sekarang ada gaun mejeng, gaun malam minggu, gaun berkunjung, gaun ke panggung, pakaian ke kantor, pakainan piknik, busana resepsi, gaun ke plaza, busana rileks, gaun shopping, dan busana ke mall.

Itulah satu dari banyak jenis permainan yang saya sukai waktu kecil. Karena permainan ini mengajarkan kepada saya kemampuan berkomunikasi dengan orang lain, kemampuan memerankan berbagai karakter orang dan kemampuan menata rumah tinggal.

30 Juni 2009

Mlple‭’‬-Mple‭’‬an:‭ ‬Sebuah Dolanan‭ ‬Lemah

By‭ ‬:‭ ‬Achmad Choirudin

Azdan untuk waktu Dzuhur berkumandang.‭ ‬Siang itu,‭ ‬dengan badan lusuh dan lapar,‭ ‬saya pulang ke rumah setelah setengah hari meninggalkannya.‭ “‬Dari mana saja kamu itu‭?”‬ tanya Ibu menyambut‭ ‬kedatanganku dengan nada agak membentak.

Kala itu saya berusia kira-kira‭ ‬8‭ ‬tahun.‭ ‬Duduk di bangku kelas‭ ‬5‭ ‬Sekolah Dasar Negeri Pekuwon II,‭ ‬Kec.‭ ‬Sumberrejo,‭ ‬Kab.‭ ‬Bojonegoro.‭ ‬ Namanya anak-anak,‭ ‬paling senang ya bermain.‭ ‬Dalam bahasa jawa‭ ‬dolanan.‭ ‬Saya pun menjawab,‭ “‬Habis‭ ‬dolanan.‭”‬ Dan Ibu sontak menyahutnya,‭ “‬Bocah kok senengane dolanan ae.‭ ‬Sampe lali maem.‭”

Lantas ibu melanjutkan umpatannya,‭ “‬Dolanan apa kok tangannya kotor gitu‭?”‬ ya siang itu saya habis dolanan‭ ‬mple‭’‬-mple‭’‬an.‭ ‬Jenis dolanan ini pasti membuat tangan kotor dengan tanah.‭ ‬Sisa-sisa tanah menempel di telapak tangan.‭ ‬Awalnya tanah itu setengah basah.‭ ‬Lama-lama mengering di tangan.‭ ‬Ups,‭ ‬tapi bukan itu substansi permainan ini.‭ ‬Kotornya tangan hanya efeknya.

Begini awal cerita siang itu.‭ ‬Seperti umpatan Ibu tadi,‭ ‬yang namanya bocah pasti seneng bermain atau dolanan.‭ ‬Dolanan yang lagi ngetrend kala itu‭ (‬nampaknya hingga sekarang‭) ‬adalah miniatur mobil atau motor.‭ ‬Biasa disebut mobil-mobilan atau motor-motoran.‭ ‬Kalau punya uang banyak,‭ ‬bisa memainkan mainan mobil atau motor-motoran yang terbuat dari isntrumen teknologi elektronik.‭ ‬Dioperasikan dengan listrik atau tenaga lain dengan basis instalasi kerja rangkaian teknik fisika.

Nah,‭ ‬beda lagi ceritanya kalau cah ndeso yang notabene tak punya uang cukup untuk beli mainan sejenis itu.‭ ‬Padahal tetap pengen punya motor atau mobil-mobilan.‭ ‬Untunya cah ndeso dekat dengan alam.‭ ‬Bisa juga memanfaatkan kekayaan alam yang melimpah untuk bekal kreatif.

Siang itu,‭ ‬hingga telapak tangan penuh dengan sisa-sisa tanah yang mengering,‭ ‬tak lain kami habis‭ ‬merangkai motor dan mobil-mobilan dari tanah.‭ ‬Tak ada uang buat beli mainan elektronik atau sejenisnya,‭ ‬tanah pun bisa dimanfaatkan.

Tanah itu kan zat padat yang cukup lunak.‭ ‬Dia tidak keras seperti batu.‭ ‬Apalagi tanah yang setengah basah.‭ ‬Kalau terlalu basah,‭ ‬lumpur namanya.‭ ‬Tanah setegah basah mau saja dibentuk jadi berbagai rupa.‭ ‬Dibuat jadi bulat menyerupai bola,‭ ‬mau.‭ ‬Dibentuk kotak seperti balok,‭ ‬tak nolak juga.‭ ‬Kemanutan tanah inilah yang menginspirasi kami untuk membentuknya menjadi miniatur motor atau mobil.

Begini caranya.‭ ‬Ambil tanah setengah basah.‭ ‬Bisa didapatkan dimanapun.‭ ‬Kala itu,‭ ‬saya biasa mengambil tanah setengah basah dari bongkahan rumah yuyu yang‭ ‬melubangi lahan-lahan kosong.‭ ‬Tanah di lereng sugai atau pairit kurang pas.‭ ‬Terlalu basah.‭ ‬Sedangkan tanah bongkahan rumah yuyu kadar kebasahannya tidak terlalu tinggi.‭ ‬Dia lembek,‭ ‬tak lembek-lembek amat dan tak keras.‭ ‬Pokoknya pas lah jadi bahan baku miniatur mobil-mobilan.

Setelah mendapatkan tanah setengah basah secukupnya.‭ ‬Langsung saja mulai membaginya ke dalam beberapa gumpalan sesuai kebutuhan.‭ ‬Misalnya,‭ ‬untuk membentuk sebuah mobil,‭ ‬ada beberapa bagian vital dengan bentuk yang berbeda-beda.‭ ‬Misalnya saja truk.‭ ‬Ada roda,‭ ‬kepala,‭ ‬dan wadah pengangkutnya,‭ ‬bisa berbentuk bak atau box.

Saya sendiri paling senang membentuk miniatur truk box.‭ ‬Sealain mudah,‭ ‬bentuknya unik dan estetik.‭ ‬Truk box juga paling sering dipakai untuk beradegan dalam film-film‭ ‬action.‭ ‬Pokoknya keren.

Untuk membentuknya,‭ ‬saya membagi tanah ke dalam bagian rangka,‭ ‬roda,‭ ‬box‭ ‬dan kepala.‭ ‬Tanah yang sudah dibagi itu lantas di padatkan dulu.‭ ‬Caranya simpel.‭ ‬Tinggal meremas-remas dengan tangan.‭ ‬Bagian rangka berbentuk lempengan balok tipis.‭ ‬Fungsinya untuk memangku kepala dan box truk.‭ ‬Cara membentuknya juga sederhana.‭ ‬Tinggal‭ ‬membentur-benturkan tanah yang sudah padat tadi ke lantai.‭ ‬Tetunya tidak dengan keras-keras.‭ ‬Kalau terlalu keras,‭ ‬tanah bakal nempel di lantai.‭ ‬Memukul-mukulkannya dengan tenaga secukupnya dan sesuai alur bentuk.‭ ‬Nah,‭ ‬langkah memukul-mukulkan tanah ke lantai‭ ‬inilah yan disebut mple‭’‬-mple‭’‬an.‭ ‬Tak ada landasan filosofisnya.‭ ‬Nama itu diadopsi dari bunyi dipukul-pukulkan tanah setengah basah tadi ke lantai.‭ ‬Plek,‭ ‬plek,‭ ‬plek,‭ ‬plek‭!

Bagian kedua adalah kepala truk.‭ ‬Caranya sama dengan membentuk rangka tadi.‭ ‬Bagian selanjutnya adalah box.‭ ‬Tinggal membentuk tanah setengah basah menjadi balok tebal dengan lebar dan panjang sisi-sisinya sesuai ukuran yang dikehendaki.‭ ‬Setelah kepala dan‭ ‬box jadi,‭ ‬langsung menempelkannya ke lempeng rangka pertama tadi.‭ ‬Agar daya rekatnya kuat,‭ ‬penempelan kepala dan box dilengkapi dengan potongan lidi yang ditancapkan ke bagian bawah kepala dan box.‭ ‬Baru ditancapkan ke lempeng pangkuan.‭ ‬Jadi‭ ‬deh...

Eh,‭ ‬sebentar dulu.‭ ‬Tanpa roda truk tak bisa jalan.‭ ‬Baru sekarang membentuk roda.‭ ‬Caranya sama sekali tak beda.‭ ‬Cuma,‭ ‬membentuk roda agak susah,‭ ‬karena bentuk roda yang bulat.‭ ‬Bagian ini tak cukup untuk di-emplek-emplek saja.‭ ‬Perlu sentuhan lembut tangan untuk mengukir tanah menjadi bulat mendekati sempurna.

Setelah empat roda terbentuk,‭ ‬mari kita pasang ke truk setengah jadi tadi.‭ ‬Dua roda untuk bagian depan,‭ ‬dua roda untuk bagian belakang.‭ ‬Agar roda bisa menggelinding,‭ ‬tentunya perlu as.‭ ‬Saya biasa menggunakan sapu lidi sebagai as roda.‭ ‬Tancapkan potongan sapu lidi ke rangka‭ (‬lempeng balok tiipis pangkuan kepala dan box tadi‭)‬,‭ ‬melintang hingga tembus,‭ ‬dan dilebihkan untuk tancapan roda.‭ ‬Dua as untuk bagian depan dan belakang.

Setelah as tertancap,‭ ‬langsung saja pasang roda ke masing-masing sisi as yang terlihat nongol di empat sisi.‭ ‬Caranya tinggal menancapkan saja.‭ ‬Truk sudah bisa berjalan...

Wah,‭ ‬kok rodanya sering lepas‭? ‬Nah,‭ ‬roda yang tertancap di as tadi harus dikunci agar tidak mudah lepas.‭ ‬Bentuk bulatan tanah lagi.‭ ‬Kecil‭ ‬aja.‭ ‬Tancapkan ke as,‭ ‬di sebelah luar roda.‭ ‬Sekarang truk siap ngebut.‭ ‬Loh,‭ ‬truknya kan tak bisa jalan sendiri‭? ‬Oh‭ ‬iya ya.

Perlu tenaga pendorong atau penarik.‭ ‬Untuk mainan ini,‭ ‬biasa digerakkan dengan tenaga tarik.‭ ‬Pasang cantolan di bagian depan kepala truk untuk mengaitkan tali.‭ ‬Cantolan ini bisa dari lidi juga.‭ ‬Kaitkan tali,‭ ‬saya biasa memakai serpihan pohon pisang‭ (‬gedebok‭) ‬sebagai instrumen penarik truk.‭ ‬Nah,‭ ‬setelah bisa ditarik,‭ ‬truk akan setia menemani petualangan bocah‭ ‬ndeso.‭

23 Juni 2009

Pagla

By Iryan Ali

“Cring‭…”
Semua uang logam cepekan itu buyar,‭ ‬mencar ke mana-mana,‭ ‬setelah dilempar Deden dari jarak tiga meter ke lubang kecil berdiameter‭ ‬8‭ ‬cm dan dalam‭ ‬3‭ ‬cm.‭ ‬Wajah Deden langsung‭ ‬bungah,‭ ‬berseri,‭ ‬senyum senang melihat ada dua koin cepekan berwarna emas itu masuk ke lubang yang sengaja dibuat sedikit agak lebar dari uang logam itu.

“‬Nu mana Pik‭?” ‬kata Deden ke Taufik.‭ ‬Taufik yang punya kesempatan giliran melempar koin setelah Deden bingung memilih koin mana yang perlu diincar Deden untuk dikenai koin gundu yang dipegangnya.

Anak-anak yang lain pun bersorak,‭ ‬menyarankan untuk menunjuk salah satu koin yang dirasa sulit,‭ ‬sehingga Deden tidak bisa mengenainya.‭ ‬Salah satu syarat untuk mendapatkan semua uang yang ditaruhkan itu adalah mengenai incaran yang sengaja dipilihkan.‭ ‬Sehingga,‭ ‬satu sama lain saling menjebak agar kumpulan uang receh itu lama didapatnya,‭ ‬atau kalaupun habis karena diperoleh dengan cara lempar-masukan uang recehan itu ke lubang.

Ada tiga koin yang numpuk jejer secara impitan,‭ ‬dan Taufik meminta koin yang tengah itu untuk dikenai koin gundu Deden.‭ ‬Ternyata,‭ ‬tembakan itu meleset,‭ ‬malah mengenai koin yang lain.‭ ‬Anak-anak yang lain pun‭ ‬atoh,‭ ‬sorak gembira,‭ ‬termasuk saya,‭ ‬karena berarti tidak jadi mendapatkan semua koin.‭ ‬Seterusnya,‭ ‬Taufik yang melempar,‭ ‬dan giliran saya yang akan menunjuk salah satu koin untuk ditembak.‭ ‬Setelah itu,‭ ‬seterusnya pula semua bergiliran.

Begitulah,‭ ‬biasanya saya dan teman kerap melakukan permainan taruhan lempar koin semacam itu di halaman pinggiran rumah,‭ ‬dekat pohon belimbing,‭ ‬di Kampung Karajan Desa Pangulah Selatan Kotabaru Karawang.‭ ‬Permainan ini biasa kami sebut Pagla,‭ ‬yakni permainan mempertaruhkan sejumlah koin yang dikumpulkan,‭ ‬lalu setiap orang yang ikut permainan punya kesempatan bergilir untuk memperebutkannya dengan cara melempar-masukan ke lubang atau mengenai salah satu koin yang sengaja diincar.

Cara bermain Pagla ialah berdasar kesepatkatan.‭ ‬Pertama,‭ ‬menyepakati jumlah uang logam yang hendak pertaruhkan oleh setiap orang.‭ ‬Kedua,‭ ‬jenis uang logam macam apa yang hendak dikumpulkan.‭ ‬Ketiga,‭ ‬mengatur jarak garis lempar permainan.‭ ‬Keempat,‭ ‬membuat lubang berdiameter seukuran uang logam yang telah disepakati.

Maka,‭ ‬caranya ialah setiap orang mendapat giliran kesempatan untuk melemparkan uang logam yang dikumpul,‭ ‬lalu mengincar lubang,‭ ‬berharap ada yang masuk.‭ ‬Apabila masuk,‭ ‬maka uang itu layak didapat orang yang melemparnya,‭ ‬sesuai dengan jumlah yang masuk.‭ ‬Setelah itu,‭ ‬orang yang yang mendapat giliran melempar koin berikutnya akan menunjuk koin mana yang perlu dituju untuk dikenakan oleh si pelempar dari jarak yang telah ditentukan di awal permainan.‭ ‬Apabila lemparannya jitu,‭ ‬mengenai koin yang ditunjuk oleh temannya,‭ ‬maka otomatis dia akan mendapatkan koin itu semua.

Tetapi,‭ ‬anak-anak tidak bisa bermain permainan semacam itu setiap hari atau bulan.‭ ‬Biasanya,‭ ‬saya di kampung melakukan permainan itu hanya saat memiliki cukup banyak uang.‭ ‬Artinya,‭ ‬kami menuggu musim di mana setiap anak tengah memegang uang.‭ ‬Jadi,‭ ‬biasanya kami melakukan permainan saat hari-hari libur lebaran,‭ ‬di mana setiap anak di kampung kami mendapat‭ ‬ceceupan dari sanak keluarga dan tetangga.
Sekarang,‭ ‬anak-anak di kampung saya sudah jarang sekali ada yang bermain Pagla,‭ ‬seperti yang saya lihat pada keponakan saya.‭ ‬Pertama,‭ ‬permainan ini dilarang para orang tua karena dinilai judi.‭ ‬Kedua,‭ ‬saat ini,‭ ‬ketika lebaran anak-anak biasanya memilih untuk membelanjakan uang‭ ‬ceceupan ke pasar,‭ ‬membeli pistol mainan,‭ ‬atau sekadar jajan di Alfa Mart atau sekadar main ke Cikampek Mall.‭ ‬Ketiga,‭ ‬menabung uang‭ ‬ceceupan itu untuk membeli tas,‭ ‬buku atau sepatu baru sebelum masuk sekolah.

Tentunya,‭ ‬sampai di sini,‭ ‬saya memaknai Pagla sekadar bagian dari ingatan dan pengalaman yang biasa saya lewatkan saat lebaran,‭ ‬selain ingatan pada ketupat,‭ ‬naik bukit Ciganea Purwakarta dan nonton televisi.‭[‬iyan‭]

21 Juni 2009

Das-Dasan

By : Muhammad Ghofur

Das-dasan begitu kami menyebut nama permainan itu. Awal mula saya mengenal permainan ini adalah sewaktu menuntut ilmu di Sekolah Dasar Negeri Sugihwaras II. Sekolah tersebut berada di desa Sugihwaras, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. Jam istirahat antar mata pelajaran menjadi prime time berlangsungnya pertandingan Das-dasan. Biasanya saat istirahat, siswa menghabiskan waktu menurut bakat, minat sekaligus kemampuannya. Permainan ini tergolong permainan asah otak dan tidak menuntut kekuatan otot. Kebanyakan dimainkan oleh bocah laki-laki. Model permainan yakni head to head. Sebenarnya pemain ada dua orang yang saling berhadapan. Namun, pada perkembangannya bisa menjadi dua kelompok lantaran suporter di tiap pihak bisa sekaligus menjadi penasehat strategi dan tim pemenangan.

Dua hal utama yang harus dipahami dalam permainan dam-daman adalah bidak dan papan main. Bidak biasa dibuat dari batu maupun biji buah asem. Sedangkan papan main, bisa kertas atau tanah sekalipun yang digambar dengan motif tertentu. Dalam sebuah papan main das-dasan, terdapat titik-titik yang digunakan pijakan pada masing-masing bidak. Diantara tiap-tiap titik terdapat garis horisontal, vertikal dan diagonal yang dijadikan jalur langkah bagi bidak. Dalam sebuah permainan terdapat

Tujuan utama dari das-dasan adalah menghabiskan bidak lawan. Bidak lawan dapat dimakan dengan cara melompatinya. Tahap melompati ini juga dapat diartikan sebagai salah satu cara untuk melangkah atau berjalan. Namun, bidak juga bisa berjalan dengan cara melangkahi satu per satu titik lewat garis yang tersedia.

Langkah bidak, baik melompati lawan maupun satu langkah, dimaksudkan untuk mencapati puncak yang berada di sisi main lawan. Dengan mencapai sisi puncak lawan, bidak pemain yang mencapainya akan menjadi bidak Das. Bidak ini semacam poker dalam permainan kartu sebab memiliki kemampuan ekstra. Kelebihan bidak Das adalah mampu berjalan dan melangkah lebih dari satu titik didepannya. Saat bidak Das melangkah, ia juga dapat sekaligus menghabisi bidak-bidak musuh yang ada didepannya.

Pemain yang lebih dulu bidaknya habis ia menjadi pihak yang kalah. Jadi, kunci utama untuk memenangi permainan ini adalah dengan menjadikan bidak mencapai puncak sisi lawan.

07 Juni 2009

Permen Karet Bergambar

By Kelik Supriyanto

Tidak terduga ternyata mainanku dahulu kutemukan lagi. Permen karet bergambar beraneka binatang, motor, dan mobil. Permen karet bermerek "GOOFY BUBLE GUM" ini berupa gambar berukuran 5,6 cm x 6,8 cm berbahan dasar plastik, sehingga bisa bertahan dari kelembaban. Foto full color. Sayang sekali saya tidak menyimpan bungkus permen karetnya sehingga tidak terlacak pabrik pembuatnya. Beredar sekitar tahun 80-an awal.

Setiap permen karet terselip selembar gambar dalam posisi terlipat. Kita tidak tahu gambar apa yang ada didalamnya. Untuk mendapatkan gambar yang lengkap kita harus banyak mengunyah permen karet tersebut. Kita selalu penasaran untuk mengetahui gambar-gambar yang ada didalamnya.

Dari seluruh koleksi saya tersebut terbagi menjadi gambar mobil, motor, kapal laut, pesawat terbang, dan hewan liar. Semua gambar motor dan mobil yang sedang trend pada waktu itu.

Pesawat terbang terdiri dari Airbus A 300 B4, Boeing 727-200, dan helicopter MBB BO 105. Sedang gambar motor terdiri dari BMW R 100 RS, Harley Davidson XLH 1000, Yamaha XS 1100, dan Suzuki GT 500. Kapal laut ada Cruiser South Carolina USA, Hydrofoil Boat Ferry London, Car Ferry greece, Frigate Karlsruhe W-Germany, Oil Supertanker, Destroyer Impavido Italy, dan Submarine Sirene France.

Gambar mobil terdiri dari Lamborghini Countach LP, Thunderbird, Mercedes Benz 280 TE, Ford Granado GLS, Mercedes Benz 600, Citroen CX2400 GTI, Lancia Stratos, Chevrolet Blazer, Cadilac Sevile, Alva Romeo Giulietta 1.6, Mitsubishi Sapporo 2000 GLS, Lotus Eclat 520, Simca Bagheera, Jaguar XJ-S, dan yang lainnya.

Gambar hewan terdiri dari beruang, jerapah, cheetah, badak, singa, macan, kucing liar.

Dari gambar tersebut yang dulu paling aku suka yaitu mobil listrik berkecepatan 226km/jam yang bentuknya unik. Hewan liar yang aku suka cheetah. Jaman dahulu setiap mau tidur gambar-gambar tersebut aku keluarkan untuk dipelototi. Mungkin karena minimnya hiburan pada waktu itu. Gambar berwarna dari plastik merupakan hal yang saya anggap cukup mewah.

Eh, ternyata sejak kecil aku suka melihat hewan, makanya sampai sekarang masih saja memelototi tayangan Discovery Chanel. Pingin sih bisa memotret hewan liar dihabitatnya. Kapan ya bisa terkabul keinginan saya ini ? Jadi iri sama Alain Compost.

21 Mei 2009

Bekelan

By Nella A.P.

Bekelan berasal dari bahasa Belanda, bikkelen. Permainan ini masih saudara dengan gathengan. Kalau gathengan hanya menggunakan batu kerikil, bekelan menggunakan seperangkat alat khusus yang dinamakan bekel. Bekel ini terdiri dari sebuah bola bekel dan lima buah biji bekel berbentuk logam. Ada yang terbuat dari kuningan, dan ada yang terbuat dari bahan timah.

Pada awalnya biji bekel dibuat dari engsel tulang tumit kaki belakang domba. Sekarang dibuat dari logam. Bentuk biji bekel nyaris seragam di berbagai negara. Tidak mengalami perubahan sejak dahulu. Terdiri dari empat biji bekel dan satu bola bekel.

Logam ini memiliki bentuk yang khas. Terdiri dari permukaan kasar yang ditandai dengan lubang-lubang kecil di permukannya berjumlah lima titik, permukaan halus yang ada tanda silang atau polos sama sekali, permukaan atas yang ada bintik merahnya, dan permukaan bawah yang tidak ada tanda catnya.

Permainan ini dilakukan dengan cara menyebar dan melempar bola ke atas dan menangkapnya setelah bola memantul sekali di lantai. Kalau bola tidak tertangkap atau bola memantul beberapa kali maka pemain dinyatakan mati.

Pertama, pemain menggenggam seluruh biji bekel dan menyebar seluruhnya ke lantai sambil melemparkan bola bekel ke atas dan menangkapnya. Biji bekel diambil satu-satu sampai habis. Ulangi lagi menyebar seluruh biji bekel dan diambil 2 biji bekel, diambil dengan 3 biji bekel, diambil 4 biji bekel, terakhir lima biji bekel diraup sekaligus.

Langkah kedua, Balik posisi bekel menghadap ke atas semua satu persatu. Ulangi terus sampai seluruh permukaan bekel menghadap ke atas semua. lalu ambil satu bekel, ambil 2 biji bekel, ambil 3 biji bekel, ambil 4 biji bekel, terakhir raup seluruh biji bekel.

Langkah ketiga , balik posisi biji bekel menghadap kebawah dan ulangi langkah sepertei langkah kedua dengan mengambil biji bekel 1, 2, 4, dan seluruhnya.

Langkah keempat, balik seluruh posisi bekel bagian permukaan yang halus menghadap ke atas lalu ambil biji bekel seperti langkah ketiga.

Langkah kelima, balik posisi bekel posisi permukaan kasar menghadap ke atas semua, lalu ambil biji bekel seperti langkah sebelumnya,

Langkah terakhir dinamakan Nasgopel. Balik posisi biji bekel mengahadap ke atas semua, kemudian balik lagi semuanya menghadap kebawah semua, terus permukaan halus menghadap ke atas semua, dan terakhir balik satu persatu permukaan kasarnya menghadap ke atas semua. Raup seluruh biji bekel dalam sekali genggaman. Bila ada kesalahan dalam langkah nasgopel ini pemain harus mengulang ke langkah awal nasgopel. Pemain yang bisa melewati tahap ini dinyatakan sudah menang dan berhak untuk istirahat sambil menonton teman-temannya yang belum bisa menyelesaikan permainan.

Namun ada juga beberapa temanku di Patalan, Bantul, Yogyakarta yang menganggap bahwa permainan ini belum selesai. Dan masih harus melakukan satu tahapan lagi. Sebuah bekel diletakkan di pangkal jempol, lemparkan satu biji bekel tersebut bersamaan dengan melempar bola bekel. tangkap biji bekel tersebut sambil mengambil biji bekel yang ada dilantai, baru tangkap bola yang telah memantul sat kali. kemudian melakukan lagi permainan dari awal sampai tahap nasgopel. Barulah dianggap menang.

Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak perempuan, minimal dua orang. Kalau sudah bermain bekelan ini rasanya jadi lupa waktu karena pikiran terkonsentrasi untuk tidak melakukan kesalahan ketika bermain. Jika temannya banyak maka menunggu giliran merupakan hal yang menjengkelkan, sehingga kadang berharap agar temannya melakukan kesalahan dan segera dapat giliran main.

Paling sebel kalau ditonton oleh anak laki-laki. Mereka biasanya mengganggu agar hilang konsentrasi dan melakukan kesalahan. Kalau ada yang mati mereka akan teriak kegirangan.

13 Mei 2009

Asin Naga

By Dwi Kurniawan

Permainan yang ini merupakan salah satu permainan waktu kecil dulu di Karang Asam, Samarinda, Kalimantan Selatan, yang masih saya ingat. Asin naga sendiri sepertinya memiliki nama yang berbeda pada setiap daerah. Permainan ini sendiri belum jelas mengapa diberi nama seperti itu. Mungkin ada cerita panjang dibalik penamaan yang belum saya tahu itu.

Permainan yang dimainkan oleh dua orang sampai lima orang, dan menyesuaikan luas tempatnya. Maklum, permainan ini biasanya dilakukan di tanah lapang dan mesti tanah yang kering. Tidak direrumputan karena sayang rumputnya yang dikorbanin.

Kita mesti membuat petak-petak, dibuat kotak-kotak dengan cara menggaris di tanah dengan benda apa saja yang penting berbekas. Coba kalau rumput ? Kan, sayang toh. Setiap pemain harus memiliki sebuah patahan keramik atau apapun yang berbentuk pipih sebagai alat bantu yang disebut epek.

Urutan pemain dilakukan dengan cara gambreng atau hom pim pah. Dari hasil undian tersebut permainan dapat segera dimulai. Pemain segera melemparkan epeknya pada jarak tertentu. Lalu berjalan melewati petak tersebut dengan satu kaki dan tidak boleh berganti dengan kaki yang lain. Harus mengintari petak tersebut dan yang pertama lolos dialah pemenangnya.

Permainan ini identik dengan kisaran umur anak-anak SD. Dan, biasanya kalau habis main ada saja yang ngompol karena harus melompat-lompat. Permainan ini tergolong permainan yang cukup menguras tenaga dan melelahkan.

12 Mei 2009

Nekeran

By Kelik Supriyanto

Nekeran atau bermain gundu, merupakan permainan anak paling terkenal dan telah tersebar keseluruh dunia. Istilah neker berasal dari bahasa Belanda knikkers yang berarti kelereng. Di British Museum disimpan berbagai gundu kuno dari berbagai belahan dunia. Ada gundu dari Mesir Kuno dan Roma. Ditemukan juga di Piramid Aztec. Gundu jaman dahulu dibuat dari tanah liat dan batu, terutama dari batu marmer. Baru pada tahun 1890, pabrik gundu pertama dibangun di Jerman, menyusul di Amerika Serikat. Tahun 1922 turnamen gundu pertama kali diadakan di Wildwood, New Jersey. Di Yogyakarta juga ada tiga gundu raksasa terbuat dari batu marmer berdiameter sekitar 15 cm sampai 30 cm yang disimpan di dekat Makam Kotagede. Batu yang dinamakan Watu Gatheng itu konon merupakan mainan Raden Rangga anak Panembahan Senopati yang berkuasa di kerajaan Mataram Islam sekitar abad ke 16.

Saat ini jenis kelereng yang paling populer terbuat dari bola gelas. Ukuran gundu berkisar 1,2 cm sampai 6 cm. Kebanyakan transparan dengan berbagai corak didalamnya, dinamakan kelereng blimbing, karena hiasan di dalam kelereng seperti bentuk belimbing. Yang berwarna putih dinamakan kelereng susu.

Permainannya sangat sederhana. Minimal dua anak. Biasa dimainkan oleh anak laki-laki, biarpun juga tidak menutup kemungkinan ada anak perempuan yang ikut main. Mula-mula semua pemain berdiri sejajar dengan sebuah garis ditanah sebagai pembatas, yang melewati pembatas dianggap gugur dan permainan diulang kembali.

Semua pemain melemparkan gundunya ke satu lubang yang dibuat sebelumnya, istilahnya nuju. Lubang untuk nuju dibuat dengan cara membenamkan gundu ke tanah yang agak padat sehingga membentuk cekungan setengah lingkaran, dinamakan cliwikan. Urutan pemain berdasarkan kedekatan dengan lubang sasaran. Yang paling dekat berhak main duluan. Dia harus memasukkan gundunya ke lubang sasaran. Bila dapat masuk ke lubang dia berhak membidik sasaran lawan. Kalau gundunya tidak dapat masuk ke lubang maka digantikan oleh pemain berikutnya.

Gundu lawan yang kena bidik langsung menjadi milik pembidik. Dia berhak membidik sampai dianggap mati. Dianggap mati bila gundu pembidik masuk ke lubang sasaran atau gundu pembidik dan gundu yang telah jadi sasaran berjarak kurang dari satu kilan, jarak antara ujung jempol tangan dengan kelingking. Bila dapat giliran main tetapi jarak antara gundu pemain dengan gundu sasaran terlalu dekat yang memungkinkan menyenggol gundu lawan atau merasa susah membidik gundu sasaran karena terlalu jauh bisa langsung bilang in, dia menyerah tidak mau mengambil giliran main dan gundunya dipindahkan ke dalam lubang tempat nuju. Meleset dalam membidik juga dianggap mati.

Tiap anak mempunyai teknik membidik yang berlainan, mereka mempunyai gaya yang paling disukainya. Gundu dijepit dengan jari telunjuk dan disentil dengan jempol, istilahnya njenthot. . Dijepit diantara jari tengah dan jempol, terus disentil dengan jari tengah, istilahnya nylenthik. Menggunakan dua buah tangan. Jari telunjuk dan jempol tangan kiri menjepit gundu lalu disentil dengan jari tengah tangan kanan, istilahnya nyladang.

Bagi pemain yang kalah dan habis gundunya langsung keluar dari permainan. Ada juga yang utang ke pemain yang menang. Permainan berakhir bila sudah bosan atau sudah tidak ada yang punya gundu karena diborong oleh pemenang, istilahnya ngeruk, karena telah berhasil mengambil seluruh gundu pemain. Bagi yang jagoan dalam bermain gundu, bisa menghasilkan uang karena hasil kemenangan bisa dijual ke temannya, tentunya dengan harga yang bisa dinego, tergantung baik dan buruknya kondisi gundu. Cino craki, istilah yang ditujukan bagi anak yang sudah banyak menang tetapi tidak mau menghutangkan gundunya pada pemain yang kalah.

Inilah permainnya waktu kecil di Yogyakarta yang cukup membekas karena saya tidak cukup mahir membidik jadi kalau bermain dengan anak yang mahir lebih baik berhenti bermain saja karena kemungkinan menangnya sangat tipis, Jadi nyari tantangan yang setara saja.

Paton-Patonan

By Ahmad Baiquni

Satu permainan yang hingga kini masih meninggalkan kesan bagi saya adalah paton-patonan. Alat yang dibutuhkan hanya tongkat kecil yang ujungnya dibuat runcing. Dicarilah tanah yang gembur atau tempat becek untuk sasaran menancapkan tongkat.

Aturannya sangat sederhana. Setiap pemain melemparkan tongkatnya agar menancap di sasaran yang sudah ditentukan. Yang tidak menancap dinyatakan kalah dan akan diberi hukuman. Dia harus merelakan kaki atau tangannya diolesi tanah becek yang tertempel di ujung tongkat teman-temannya yang menang.

Lama-kelamaan sasaran tanah yang dijadikan sasaran akan semakin meningkat dengan mencari sasaran baru. Permainan akan menjadi seru bila menemukan sasaran berupa kotoran sapi atau kerbau. Yang kalah dijamin akan diolesi kotoran hewan tersebut di kaki atau bagian tangannya.

Bila yang kalah berbuat curang dengan lari dari hukuman, maka teman-temannya akan mengejarnya sambil membawa tongkat yang ujungnya ada kotoran sapi tersebut. Semua anak akan berusaha menangkap yang kalah tersebut dan beramai-ramai mengolesinya. Kadang-kadang ada juga yang sampai menangis karena terlalu banyaknya kotoran yang dioleskannya.

Saat itu kami enjoy saja dan tidak merasa jijik dalam bermain karena dalam bermain paton-patonan semua anak terkonsentrasi untuk tepat melemparkan tongkatnya ke sasaran. Keterampilan dan kecekatan dibutuhkan untuk tidak kalah. Yang sering kalah selalu dijadikan olok-olokan di sekolah. "Bau bau, habis kena kotoran kerbau ya ?," ejek teman-teman di Kediri bila saya kalah dalam bermain paton-patonan.

30 April 2009

Idola Jaman Dulu

By Kelik Supriyanto

Lirikan matamu menarik hati
Oh senyumanmu manis sekali
Sehingga membuat… aku tergoda

Sebenarnya aku ingin sekali
Mendekatimu memadu kasih
Namun sayang-sayang… malu rasanya
Biar kucari nanti caranya

[Reff:]
Memang sekarang malam perpisahan
Namun awal lahirnya percintaan
Harapanku dapatlah kau rasakan
Meskipun belum aku menyatakan
Oh kiranya aku… telah jatuh cinta

Senyumlah sayang sekali lagi
Sebagai tanda aku tak sendiri
Percayalah baru… pertama kali
Pengalaman ini aku alami

Lagu Lirikan Matamu yang dinyanyikan oleh A. Rafiq tersebut mengingatkan akan lagu-lagu masa lalu. Bagi generasi era 80-an pasti akan mengenal artis-artis semisal R.H. Oma Irama, Elvi Sukaesih. Untuk artis anak-anak yang populer saat itu Dina Mariana, Adi Bing Slamet, Chicha Koeswoyo, Iyut Bing Slamet, Fitria Vivi S.

Selayaknya para fans. Mengoleksi gambar mereka merupakan suatu kesenangan tersendiri. Disetiap gambar yang saya koleksi disebaliknya tertulis lagu-lagunya. Jadi bisa sekalian untuk menghafalkan syairnya. Diproduksi oleh percetakan berinisial A.B.D., T, dan M. Gambar-gambar ini diselipkan di dalam bungkusan kembang gula endog cecak alias telur cicak. Permen jaman dulu berupa bulatan kecil berwarna-warni, manis rasanya.

Dari gambar-gambar tersebut terlihat trend pakaian saat itu. Iyut Bing Slamet tampak tomboy dengan jaket dan celana jeans biru serta syal merah di leher. A. Rafiq berbaju lengan panjang yang dimasukkan ke celana. Kancing baju dilepas beberapa agar terlihat dada dan kalung cakar harimaunya. Tidak lupa sepatu jenggel dan celana cut bray yang memang trend saat itu. Dina Mariana dan Fitria Vivi S memakai baju yang marak saat itu, kaos tanpa lengan.

Gaya rambut juga berbeda. Kebanyakan laki-laki dewasa berambut gondrong. Rambutnya sampai menutup telinganya.Istilah sekarang gondrong dangdut. Adi Bing Slamet dahulu rambutnya mirip rambut perempuan, poni. Model poni cocok untuk perempuan yang berdahi lebar, wajah panjang dan oval. Terkesan childish. Dina Mariana dan Fitria Vivi rambutnya di-blow out. Gaya rambut tersebut dibuat dengan memasang roll di ujung rambut sehingga jadi melengkung ke dalam. Pemanasan dilakukan dengan merendam roll tersebut ke air panas. Ada yang meledek, model rambut seperti ini sebagai model tutup panci.

Dari gambar yang remeh-remeh seperti itu kita dapat melacak gaya berpakaian tempo dulu.

19 April 2009

Pasaran

By Saya Monika

Waktu saya berumur 3 tahun saya mulai bermain dengan teman sekampung. Biasanya waktu sehabis dhuhur. Saya gemar bermain pasaran. Di Kauman, Kotabanjar, Banjarnegara, Jawa Tengah, di rumah budhe saya, bersama taman-teman mulai mencari tanaman di kebun yang bisa digunakan untuk pasaran. Teman perempuan yang jadi penjualnya dan beberapa anak perempuan atau anak laki-laki sebagai pembelinya.

Kami memetik dedaunan, mencari bunga-bungaan, serta pelepah daun pisang sebagai bahan utamanya. Kami mencari tanaman yang bentuknya mirip dengan makanan yang akan kami jual. Bakmi kami buat dari tumbuhan inang pohon tetehan, abon dari putik bunga petai, paha ayam dari bonggol bunga petai, daun yang lunak diiris tipis-tipis sebagai sayur. Pelepah daun pisang yang diiris tipis-tipis sebagai kerupuknya. Mie bisa juga dibuat dari irisan daun pisang.

Mata uang menggunakan daun yang tebal semisal daun nangka. Daun yang agak besar dinilai 100 rupiah dan yang kecil senilai 50 rupiah. Jumlah uang biasanya disepakati sesuai jumlah jualan yang ada. Bagi yang masih kecil belum boleh ikut memotong dedaunan takut terluka oleh pisau. Istilah di tempat saya bagi anak yang membantu dalam berjualan dan bukan sebagai pemeran utama ini disebut bawang kothong. Yang berperan sebagai bawang kothong juga boleh berperan sebagai pembeli.

Keasyikannya terletak pada sat mencari bahan-bahannya. Sangat susah mencari mie dari inang pohon tetehan dan jumlahnya memang tidak banyak yang bentuknya kekuning-kuningan menjulur panjang mirip sekali dengan bentuk mie. Yang unik-unik dan sangat mirip dengan aslinya biasanya cepat lakunya.

Permainan ini akan berakhir bila semua dagangan sudah laku atau waktu sudah sore. Para pembeli akan berpura-pura memperagakan layaknya orang makan. "Nyam...nyam...uenak. Inyong durung sarap kiye, siki kencotan. Tambah maning," ucap teman saya. Ada yang dipincuk dengan daun pisang untuk dimakan ditempat atau dibungkus seakan-akan mau dibawa pulang.

Persoalan muncul ketika ibu tidak membolehkan pisau dapurnya dibawa keluar rumah untuk bermain pasaran. Mereka takut akan melukai tangan atau takut pisau dapurnya ilang. Jadi kadang-kadang harus umpetan dengan ibu untuk meminjamnya.

Permainan ini merupakan peniruan dari perilaku orang dewasa yang memasak di dapur dan juga menirukan ibu-ibu yang berjualan dipasar. Pembeli bisa menentukan lauk apa yang diinginkan. Bila yang membeli anak laki-laki biasanya suka jahil. Menggunakan mata uang dengan daun yang belum disepakati atau malah suka mengambil sendiri jenis makanan yang dijual.

Peniruan perilaku ini ternyata menjadi permainan yang cukup mengasyikkan juga dan masih kukenang sampai sekarang. Makanya saat ini saya tertarik teater yang mengajari saya ilmu peran.

18 April 2009

Katjang Tjap Kutjing


By : Kelik Supriyanto

Bagi yang pernah jadi anak-anak era 80-an di Yogyakarta, barangkali pernah menemui penjual camilan berupa kacang shanghai. Kacang shanghai adalah kacang tanah yang dibalut dengan tepung plus bumbu garam, gula, bawang. Dikenal dengan sebutan kacang atom atau tapioca flour coated peanut. Dikemas dalam bungkus plastik dan diselipkan kertas bergambar didalamnya. Gambar itulah yang dikoleksi oleh anak-anak pada waktu itu.

Gambar yang sempat aku koleksi terdiri dari gambar tank sebanyak 4 buah, mobil sport sebanyak 5 buah, motor cross 6 buah, motor beroda tiga sebuah dan sebuah gambar hiasan janur manten. Untuk gambar mobil sport formatnya lebih kecil dari gambar yang lain, berukuran 3,2 cm x 6 cm, sedang gambar yang normal berukuran 4,5 cm x 6 cm. Mungkin untuk menghemat biaya karena gambarnya full color yang tentunya mahal biaya cetaknya. Dicantumkan pula nomor merek dagangnya, Reg MD 3012131 dan daftar syah no 59750. Menurut database Direktorat Jenderal Industri Agro dan Kimia, kacang shanghai Cap Kucing beralamat di jl. mangga no 37 Tulungagung Jawa Timur.

Kacang macam inilah yang merupakan generasi awal pengemasan camilan dari kacang yang sekarang dikemas dengan sangat apiknya. Pengolahan kacang yang awalnya hanya direbus, digoreng, dibuat kacang telor, atau kacang atom, dan sekarang diolah dengan oven dan diberi bermacam rasa. Dikemas secara menarik sehingga diminati oleh anak-anak maupun orang dewasa.

Tapi kenangan akan mainan bergambar dari dalam bungkus Katjang Tjap Kutjing tersebut dapat membuktikan akan ketertarikan saya akan gambar berwarna terutama foto, ternyata sudah sejak kecil. Apa yang kita impikan saat kanak-kanak akan menjadi kenyatan saat ini. Awalnya mengagumi karya orang lain, selanjutnya menciptakan karya sendiri.

Inilah jejak masa lalu saya yang masih bisa selamat dari kerusakan akibat kelembaban udara atau dimakan oleh rayap yang telah mengunyah koleksi beberapa buku bergambar saya.

13 April 2009

Jaranan dari Batang Daun Pisang

By Yuwono Rahman

Waktu kecil, sering kali ibu bikin lontong atau masakan lain yang membutuhkan daun pisang. Bapak biasanya memotong barang satu atau dua daun pisang dari pohon pisang di belakang rumah. Biasanya batang dari bagian tengah daun pisang dibuang saja. Atau, kalo saya ikut membantu mengambil daun pisang, bapak biasanya membikin berbagai mainan dari batang daun pisang, salah satunya jaranan ini.

Batang dari daun pisang mudah di bentuk, dengan pisau dan bengkokan di sana-sini, tidak membikin batang patah. Untuk membikin Jaranan, pertama, ambil batang dari daun pisang (1,2), dan bikin dua sayatan di kanan kiri ujung batang (3) dengan pisau. Bikin lekukan dengan pisau
seperti gambar (4). Dengan hati-hati, tekuk batang daun pisang di
bagian lekukan ini. Dua sayatan samping akan menjadi "telinga" dari
kuda.

Ambil tali plastik atau tali dari pinggir pelapah daun pisang seperti
digambar. Ikat batang daun pisang sperti gambar (5). Lanjutakan
tekukan dan tali seperti gambar (6). Dan jadilah jaranan seprti gambar
(7). Kalau masih ada sisa batang, bisa dijadikan cambuk untuk kuda.

Mainan ini murah, dan bisa dibikin kapan saja. Kalau rusak, tidak
perlu pusing, karena bisa petik dan bikin lagi. Kejelekanya cuma satu.
Getah pisang sangat susah dihilangkan kalau kena baju. Jadi biasanya
anak-anak harus hati-hati bermain jaranan ini. Pakai baju jelek, atau
kalau perlu tidak usah pake baju. Haha..

08 April 2009

Malingan

By : At tachriirotul Muyassaroh

Mungkin, 12 tahun yang lalu saya kerap memainkan salah satu permainan tradisional di daerah saya. Tepatnya di Temanggung, salah satu daerah penghasil tembakau. Biasanya kami menyebut permainan itu "Malingan" . Cukup simpel siy..hehe.

Biasanya, permainan itu terdiri dari dua orang. Masing cukup bermodal "lidi" kurang lebih 7 cm dan berjumlah sekitar 30. Permainan dimulai dengan membuat gambar persegi 25cm x 25cm. Kemudian, lidi itu "disebar" di dalam kotak. Tapi inget, lidi yang tidak di dalam kotak tidak termasuk ke dalam permainan.

Nah...setelah lidi itu ada di dalam persegi, tugas salah satu anggota adalah mengambilnya tanpa menyentuh lidi yang lain. Tidak boleh ada bantuan, kecuali menggunakan lidi.

Lidi yang diluar kotak menjadi milik lawan mainnya. Tidak boleh diambil. Lidi ini kemudian ditaruh di dalam kotak untuk menjebak agar pemain mengambilnya. Bila terambil maka lawan akan teriak, "Maling...maling..maling..." Dia telah mengambil lidi yang bukan haknya dan dinyatakan telah mati. Sedangkan anggota yang lain harus mengawasinya juga agar tidak terjadi kecurangan. He..he...

Nah. Salah satu pemain dikatakan menang jika lidi yang berhasil diambil lebih banyak. Dan, permainan dikatakan selesai saat salah satu pemain berhasil mengambil seluruh lidi miliknya. Cukup menyenangkan menurut kami, karena, disitu kecermatan mengambil lidi sangat diperlukan...Dan, tentunya dibutuhkan ingatan yang kuat untuk menentukan lidi yang boleh diambil dengan lidi yang tidak boleh diambil.

Dulu, saat kami memainkannya, salah satu pemain yang menang berhak meminta sesuatu dari pemain yang kalah.. Misal, ditraktir ato apalah...hehe...

Tapi, lama sekali permainan ini invisible...dan terkalahkan dengan permainan modern yang mulai menjamur...

Selamat mencoba...
heheh

28 Maret 2009

Dolanan Jadul Magazine

By Kelik Supriyanto

Dolanan Jadul magazine adalah sebuah situs budaya masa lalu yang muncul tersingkap oleh kesadaran akan pentingnya mengabadikan puing-puing kebudayaan yang mulai terkubur oleh waktu. Serpihan-serpihan ingatan tersebut kami kumpulkan, diracik dalam adonan kata-kata dan disajikan dalam bentuk eMagazine agar enak dinikmati. Dijamin akan menyegarkan kembali dahaga ingatan akan lupa masa lalu anda.

Dolanan berasal dari kata dolan yang berarti pergi bermain. Dolanan mencakup permainan (game) dan mainan (toy).

Dalam dunia anak, bermain adalah sebuah kebutuhan. setiap anak mempunyai permainan maupun mainan yang disukainya. Jenis permainan ini akan dikenang dan tidak mudah dilupakan. Masa kanak-kanak akan menjadi kenangan yang tidak mudah terlupakan.

Mengenang masa lalu rasanya terasa indah. Kembali ke alam beberapa puluh tahun yang lalu. Kenangan akan terasa indah bila dapat diceritakan dan tentunya dituliskan. Orang lain juga perlu merasakan indahnya masa lalu dengan berbagai permainan yang sekarang hanya tinggal cerita.

Masa lalu tidak untuk direnungi apalagi diratapi, masa lalu hendaknya dijadikan cermin. Yang baik boleh kita kenang dan diajarkan dan yang buruk hendaknya bisa kita lupakan. Hari esok lebih penting tanpa harus mengingat mimpi buruk masa lalu.

Dolanan Jadul Magazine hadir sebagai wadah bagi siapapun yang ingin dan mengingat masa kanak-kanak untuk dilitererkan agar bisa dibaca oleh seluruh umat manusia didunia. Dunia cyberspace telah melumerkan batas-batas wilayah negara maupun bangsa. Dunia baru hasil mahakarya abad 21.

Untuk edisi perdana ini terdapat berbagai pengalaman bermain dengan berbagai alat permainan yang ada disekitar kita.

Dari Temanggung ada dua permainan yang diceritakan yaitu Maling-Malingan dan Pitik Jengkol. Dari Klaten sebuah permainan Tekongan. Dari Malang ada dua permainan yaitu Kethek Menek dan Ngeban. Sedang dari Yogyakarta ada permainan Gamparan dan Gambar Umbul.

Sedang mainan yang ditampilkan ada Othok-Othok Monyet dari Blitar, Yoyo, Senapan Klorak dan Ongkol Biji Asam dari Gresik. Jaran Goyang dari Kediri dan lainnya.

Semoga edisi perdana ini cukup memberi sedikit gambaran akan dunia yang hilang berupa permainan anak tradisional.

Langsung Download disini.

24 Maret 2009

Piceng

By Ayu Sartika Hiasyah

Piceng berasal dari bahasa Makasar yang berarti tutup botol. Cara bermainnya yaitu sediakan 5 atau 7 tutup botol. Setiap pemain bersama-sama menentukan poin final tertinggi, biasanya antara 20 sampai 35. Pemain minimal 2 orang. Lebih dari 2 orang dapat membentuk team. Urutan pemain dilakukan dengan pingsut.

Para pemain mengambil posisi melingkar dan menyisakan space di tengah untuk arena piceng. Pemain pertama berhak untuk menyebar piceng di tengah arena. Piceng yang sudah tersebar tidak boleh dirubah posisinya. Satu piceng diambil dari arena. Satu piceng membidik satu piceng yang lain sehingga saling berbenturan, minimal saling sentuh. Kedua piceng yang saling berbenturan disentil agar keluar dari arena. Hal yang sama dilakukan terhadap piceng yang tersisa.

Jika piceng yang disentil tidak bersentuhan dengan piceng yang lain maka dianggap gagal dan tiba giliran pemain berikutnya. Dengan sebelumnya pemain lawan berhak untuk menentukan piceng mana yang akan dibidik dan piceng untuk membidiknya.

Jika seluruh piceng dapat diselesaikan, seluruh piceng dikumpulkan dan dilempar ke atas dan ditangkap dengan posisi tangan menelungkup. Ditangkap dengan punggung telapak tangan. Setiap piceng yang tertangkap di punggung telapak tangan bernilai 1 poin. Sampai mendapat poin yang telah disepakati.

Pemain yang memperoleh poin tertinggi paling awal, kemudian memberikan utang kepada pemain yang lain dengan cara menyusun tiap piceng di lengan satu persatu dengan jarak sekitar 5 cm. Lengan lalu ditarik kebelakang sehingga semua piceng terkumpul di genggaman tangan. Piceng tersebut lalu dilempar ke udara dan ditangkap lagi dengan punggung telapak tangan. Piceng yang terkumpul di punggung telapak tangan akan mengurangi 1 poin semua lawannya.

Sebenarnya dahulu kala permainan ini menggunakan batu kerikil, akan tetapi seiring perkembangan jaman, batu kerikil mulai digantikan dengan tutup botol yang lebih pipih sehingga lebih mudah dimainkan. Teknik permainannyapun kemudian semakin berkembang. Diantaranya dengan teknik pantul. Menjadikan lengan sebagai medan pantul dalam membidik piceng sasaran. Juga teknik melompat dengan membuat piceng mampu melompat menuju sasaran.

Jika saat pertama menyebar piceng dan ternyata semua piceng menengadah keatas atau semua piceng dalam posisi tertelungkup kebawah semua, maka pemain dapat hak istimewa dengan langsung mengambil poin, tanpa perlu membidik piceng.

Jika saat menyebar piceng 3 diantaranya berada dalam posisi menengadah keatas atau telungkup kebawah maka dapat hukuman dengan cara meletakkan 3 piceng sebagai penghalang di tengah yang berjarak sejengkal dari pembidik dan berjarak 4 jari ke arah sasaran.

Itulah permainan saya sewaktu nyantri di PP Putri Ummul Mukminin di Makasar, Sulawesi Selatan.

17 Maret 2009

Gathengan

By Nella A.P.

Saya punya kakak sepupu dirumah yang biasa ngajak bermain sehabis sekolah. Kadang dia sangat menyebalkan karena sering mengajak bermain permainan untuk anak laki-laki semisal perang-perangan sehingga males bermain dengannya lagi. Akhirnya saya mencari tetangga saya yang juga suka bermain gatheng. Permainan biasanya hanya dimainkan oleh anak perempuan saja. Anak laki-laki hanya menonton saja. Permainan ini membutuhkan konsentrasi dan ketrampilan. Minimal pemainnya dua anak, semakin banyak pemainnya maka semakin lama menunggu giliran main.

Terlebih dahulu para pemain menentukan dan menyepakati jumlah batu kerikil berukuran sedang sekitar 1 cm yang akan dimainkan. Istilah ditempat saya yaitu batu yang "disakukan", batu yang dijadikan modal selama bermain. Batu yang dikumpulkan kemudian diperebutkan oleh para pemain. Untuk menentukan urutan pemain dilakukan undian dengan hompimpah.

Pertama-tama batu disebar. Pemain urutan pertama mengambil satu batu. Batu tersebut dilempar keatas. Meraup sebanyak-banyaknya batu, baru menangkap lagi batu yang dilempat tadi. Dalam meraup batu tidak boleh menyentuh batu yang lainnya. Bila ada yang tersentuh dianggap mati dan ganti pemain yang lain. Bila batu yang dilempar keatas tadi tidak bisa tertangkap tangan juga menyebabkan pemain mati. Atau, keburu menangkap batu yang jatuh tetapi tidak sempat meraup batu juga mati.

Pemain yang mendapatkan batu terbanyak dialah yang pemenangnya. Dan, banyaknya periode permainannya tergantung kesepakatan.Disini juga berlaku sistem hutang. Bagi pemain yang kalah dan kehabisan modal batu dapat hutang pada pemain yang menang dan punya banyak batu.

Pada saat menunggu giliran main ini terasa dag dig dug, berharap lawannya segera melakukan kesalahan, dan ketika kita main juga kadang grogi sehingga jadi sering melakukan kesalahan apalagi sering diganggu oleh pemain yang lain. Apalagi yang menonton banyak anak laki-lakinya mereka senang sekali bila dapat mengganggu yang menyebabkan pemain mati, mereka pada bersorak-sorak kegirangan.

Di rumah saya di Gerselo, Patalan, Jetis, Bantul Yogyakarta permainan ini banyak dimainkan oleh anak-anak karena batu kerikil mudah didapat dan aturan permainannya juga sederhana.

14 Maret 2009

Memedi

By Kelik Supriyanto

Memedi berasal dari kata wedi yang berarti takut. Memedi adalah sesuatu yang medeni atau membuat takut. Menurut Geertz dalam bukunya Abangan, Santri, Priyayi, Dalam Masyarakat Jawa, jenis memedi hanya menakut-nakuti orang saja dan tidak menyakiti, sedang yang bisa menyakiti orang dikategorikan sebagai lelembut.

Di Yogyakarta, ada pedagang mainan yang menjual angkrek dari kertas berupa bentuk memedi. Biasanya jenis mainan ini dibeli oleh anak laki-laki untuk menakuti anak perempuan. Jaman dulu mainan angkrek ini ada lidahnya yang menjulur keluar ketika benangnya ditarik-tarik. Jenis mainan ini sudah susah ditemukan.

Angkrek hantu yang dijual oleh mbah Gunarjo dari Minggiran Bantul ini berupa hantu banaspati, hantu othe-othe, dan hantu oncit-oncit. Berbagai jenis hantu yang sangat terkenal jaman dahulu yaitu wewe, genderuwo, dan tuyul. Digunakan untuk menakut-nakuti anak yang suka keluyuran waktu magrib.

Bagi yang tinggal di pedesaan, kalau waktu magrib masih juga bermain dihalaman maka orangtua kita akan bilang, "Cepat masuk rumah. Nanti digondol wewe." Wewe adalah sejenis hantu pohon berbentuk wanita dengan selendang di pundaknya. Sering terlihat sedang menggendong anak kecil. Hantu ini hobinya menculik anak kecil yang berkeliaran pada malam hari. Dia bisa menyamar menjadi ibu dari anak yang akan diculiknya.

Penduduk desa akan membunyikan kentongan keras-keras sambil membawa obor dan menjelajahi tempat-tempat yang wingit dan gelap seperti pohon besar di kuburan, pohon dekat sungai dan tempat-tempat ketinggian. Masyarakat pedesaan percaya bahwa bunyi ribut akan membuat wewe ketakutan dan pergi dengan melepaskan anak yang diculiknya. Dalam berbagai cerita yang beredar di masyarakat, anak tersebut akan diletakkan di atas pohon yang tinggi dan besar tempat wewe tersebut tinggal.

Anak yang diculik wewe selalu bilang kalau habis diajak oleh ibunya berjalan-jalan ketempat yang jauh yang tidak dikenalnya. Dan merasa sudah pulang dan tidur nyenyak dirumah sedangkan masih ada di atas cabang pohon.

Wewe mempunyai hobi lain yaitu mencuri celana dalam wanita dan baju bayi. Malah ada cerita ketika lewat di tempat yang ada wewenya, tiba-tiba celdam yang sedang dipakainya tiba-tiba lenyap.

Banaspati adalah hantu berbentuk kepala dengan rambut yang menyala bagaikan api. Dia berjalan dengan kedua tangannya yang muncul dari kepalanya. Dipercaya bahwa banaspati suka menghisap darah dari pembalut wanita yang dibuang sembarangan.Wanita yang dihisap bekas pembalutnya akan kesurupan. Hantu jenis ini tidak pernah minum darah dari makluk yang masih hidup. Tidak seperti vampire yang suka menggigit korbannya.

Semua jenis hantu ini tinggal di tempat gelap. Setelah listrik masuk desa dan lampu dipasang ditempat-tempat gelap, cerita hantu sudah jarang terdengar. Kemana para hantu itu pergi ? Sedang shooting film, Mas......

07 Maret 2009

Jambal-Jambalan

By M. Rizal Abdi






28 Februari 2009

Brondong Beras

By : Kelik Supriyanto

Beberapa media nasional dan lokal beberapa hari ini menuliskan tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM) dan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Yogyakarta, bahwa dua jenis jajanan bagi anak-anak yang ada di arena pasar malam Sekaten, mengandung rhodamin B yaitu zat kimia berbahaya yang biasa digunakan sebagai pewarna merah muda bahan tekstil dan kertas.

Kedua jajanan itu adalah brondong beras dan arum manis. Makanan yang warnanya merah cerah ini sangat disukai oleh anak-anak, karena rasanya yang manis dan warnanya menarik. Ternyata kandungan rhodamin B ini bila dikonsumsi terus-menerus akan tertimbun di jaringan hati dan lemak sehingga dapat menimbulkan kanker hati. Kalau makanan warnanya cerah, rasanya agak pahit, terasa gatal di tenggorokan kalau dimakan, baunya tidak alami, ada kemungkinan terindikasi pakai pewarna beracun ini.

Brondong beras ini dikemas dalam dua bentuk. Ada yang dimasukkan dalam plastik memanjang seperti ular dan ada yang dibuat menyerupai bentuk sepeda motor. Harganya berkisar antara 3 ribu rupiah sampai 7 ribu rupiah. Bagi para penggemar mainan anak-anak tradisional, jenis jajanan yang sekaligus bisa digunakan untuk mainan ini layak untuk dikoleksi. Apalagi, hanya muncul setahun sekali di arena sekaten. Mumpung belum dilarang. Tentunya hanya untuk klangenan saja.

Makanan dari beras ini masih sering dijumpai di pasar tradisional dalam bentuk bulatan kecil-kecil dan dikemas dalam bungkus plastik berisi 10 buah. Berwarna coklat dan putih. Biarpun berbentuk seperti bola tapi tidak untuk mainan karena begitu bungkus dibuka akan langsung masuk mulut. Terlalu lama dibiarkan ditempat terbuka, brondong ini akan melempem dan tidak enak lagi dimakan. Rasanya sangat legit oleh gula merah yang menyelimutinya. Makanya beli yang berwarna putih karena tanpa pewarna.

Pembuatannya dengan cara dioven dalam wajan yang panas dan diaduk-aduk terus agar panasnya merata dan tidak hangus. Setelah semua beras mengembang, dicampurlah dengan gula dan dicetak sesuai bentuk yang diinginkan.

Hati-hatilah dengan makanan, agar badan tetap sehat supaya bisa jalan-jalan, makan-makan, motret-motret dan hunting mainan tradisional.

23 Februari 2009

Ciple Gunung

By : Rini Lestari

Permainanku waktu kecil yang paling aku ingat sampai sekarang adalah Ciple Gunung. Bersama-sama teman kecilku sekitar 5 anak biasa main di halaman SD-ku di kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat.

Untuk menentukan urutan terlebih dahulu kita lakukan hompimpah. Tiap anak harus punya gacoan berupa batu atau pecahan genting. Permainan dimulai dengan melempar gacoan di kotak terendah. Batu yang dilempat tidak boleh keluar garis dan harus di dalam kotak. Bila batu tidak masuk kotak dianggap mati dan diganti oleh urutan berikutnya.

Bila batu sudah masuk kotak, pemain harus lompat dengan satu kaki dan tidak boleh menyentuh batu gacoan. Pada kotak ganda, no 4-5 dan 7-8, kaki langsung dua tanpa loncat. Setelah sampai puncak, kembali ke titik awal sambil mengambil batu gacoannya.

Kalau batu gacoan udah nyampe gunung, yaitu no 9. Ambil batunya dengan membelakangi batu tersebut dengan diraba-raba. Abis itu lembar batu ke atas gunung, kaki di no 7-8 lompat dan injak batu itu. Setelah batu diambil lempar ke titik awal.

Pemain lompat lagi ke arah batu. Kalau sudah selesai pemain akan dapat bintang pada kotak sesuai urutan nomor. Yang ada bintangnya dianggap sebagai rumahnya sendiri dan pemain lain tidak boleh melewati. Kalau pemainnya terlalu banyak atau salah satu pemain belum punya bintang, sehingga tidak bisa meloncati beberapa kotak maka boleh dibuat jalan alternatif atau tangga alternatif agar pemain itu dapat menjangkau lompatannya.

Kalau seluruh kotak sudah ada bintangnya, tetapi mau masih main lagi maka bagian teratas yaitu bagian gunung bisa dibelah menjadi dua bagian agar masih bisa loncat dan dibuat gunung baru diatasnya.

Itulah permainan Ciple Gunung atau disebut juga Gunung-gunungan.

21 Februari 2009

Gambar Umbul

By : Kelik Supriyanto

Dinamakan gambar umbul karena dalam permainan ini gambar yang diadu harus dilempar keudara. Gambar yang menang adalah gambar yang tengadah kelihatan gambarnya dan yang kalah adalah gambar yang telungkup tidak terlihat gambarnya. Gambar umbul yang terkumpul terus dijepit diantara jari tengah dan telunjuk dan dijentikkan ke udara sehingga semua gambar berterbangan. Seluruh peserta berdebar-debar menunggu gambar jagoannya jatuh di permukaan tanah. Jumlah taruhan tergantung kesepakatannya. Semakin banyak jumlah taruhan, maka yang ikut main biasanya juga semakin sedikit, yang lainnya hanya menonton. Biar rame dan berlangsung lama biasanya jumlah taruhannya cukup satu gambar umbul saja.

Sebelum dimainkan gambar umbul lembaran harus dipotong kecil-kecil sesuai dengan gambar yang ada. Gambar wayang merupakan gambar favorit saya yang terdiri dari 36 gambar. Berisi tokoh-tokoh pewayangan dan beberapa hewan. Nomor 1 dimulai dengan gambar gunungan, nomor 2 - 30, gambar tokoh pewayangan, ada Pandu, Abiasa, Cakil, Baladewa, Puntadewa, Burisrawa, Dursasana, Semar, Petruk, dll. Nomor 31- 36 gambar hewan, ada garuda, menjangan, gajah, naga, banteng, dan macan.

Setiap anak memiliki tokoh idolanya masing-masing. Anak yang suka berkelahi akan memilih Bratasena karena tokoh ini selalu menang dalam peperangan. Anak yang pingin dianggap ganteng oleh teman-temannya akan memilih Arjuna. Gajah akan dipilih oleh anak yang paling gemuk. Anak paling kurus akan pilih gareng. Kadang gambar idola itu akan menjadi nama panggilannya sehingga sampai dewasa masih dipanggil sebagai si gareng atau si bagong.

Gambar umbul idola saya dulu yaitu gambar banteng. Posisi banteng yang siap menanduk dan ekor yang terangkat keatas merupakan gambaran banteng yang sedang marah. Banteng mengingatkan akan kerbau jantan milik paman saya yang suka menanduk kalau diganggu. Sedang kerbau yang betina sangat jinak sehingga kalau saya naiki akan tenang saja dan membawa kita kemanapun kerbau itu pergi untuk makan rumput. Ya, masa lalu memang ada yang indah untuk kita kenang dan ada yang buruk untuk kita lupakan.

Agar gambar umbul yang kita pilih selalu menang, banyak cara dilakukan. Dari cara curang sampai cara mistik. Cara curang dilakukan dengan cara mengelem dua gambar umbul yang sama gambarnya sehingga tidak bisa kalah karena dikedua sisinya ada gambarnya. Kadang kalau ketahuan bisa menimbulkan perkelahian dengan pihak yang kalah. Yang sedikit agar curang yaitu ketika kita dapat giliran mengundi, gambar jagoan kita cekungkan pada bagian gambar sehingga ketika jatuh ke tanah mempunyai peluang untuk menang, tidak tengkurap.

Cara paling unik yaitu dengan cara mistik. Beberapa teman yang pingin jagoannya selalu menang, dia mendatangi nisan dikuburan dan gambar jagoannya ditindih dengan hiasan batu nisan yang berupa kuncup bunga itu. Kadang butuh dua anak untuk bisa mengangkat batu tersebut. Baru keesokan harinya gambar umbul tersebut diambil dan berharap ada pertolongan dari alam arwah agar gambar umbulnya selalu menang ketika diadu.

Saya termasuk sering menang kalau taruhan dengan gambar umbul. Saya kelompokkan antara gambar umbul yang masih bagus dengan yang sudah kusut. Yang sudah kusut ditali dengan karet gelang dan yang masih bagus saya simpan dirumah. Kalau ada yang ngajak taruhan lagi, gambar umbul yang kusut tersebut yang saya jadikan taruhan.

Seiring semakin populernya cerita anak-anak di televisi. Gambar umbul wayang mulai tersisih oleh gambar umbul bergambar cerita komik semisal Batman, Bionic Woman, Tarzan, Gundala, Lucan, Robinhood, The Six Million Dolar Man, Flash Gordon, Rin Tin Tin, dan lainnya.

Tapi, kemana permainan gambar umbul itu sekarang ? Bagaimana kalau tanda gambar peserta pemilu 2009 itu kita gunakan sebagai gambar umbul. Mungkin banyak politisi kita yang akan ikut bermain. Anda, setuju ?

19 Februari 2009

Maling-Malingan

By : At tachriirotul Muyassaroh

Permainan ini minimal anggotanya dalam satu kelompok ada 4 orang. Terdiri dari dua kelompok. Ada kelompok jaga dan ada kelompok yang ngumpet. Kelompok jaga disebut kelompok polisi dan yang sedang ngumpet disebut kelompok maling.

Pertama-tama yang harus dilakukan, perwakilan kelompok maju ke depan untuk suit, menentukan kelompok mana yang harus jadi malingnya. Lalu, kelompok yang jadi maling harus mencari tempat persembunyian yang dirasa paling aman. Dengan syarat, meninggalkan jejak berupa panah disetiap jalan yang dilaluinya. Dengan kapur tulis digambar tanda panah untuk memberi petunjuk ke kelompok polisi. Bisa di dinding, pohon , maupun perempatan yang dilaluinya. Gambarnya dibuat tidak terlalu gamblang, biar tidak mudah ditemukan oleh lawan.

Selama kelompok maling mencari tempat persembunyian, kelompok polisi menunggu di markas sekitar 5 menit sambil menghitung angka 1 sampai 50 atau malah sampai angka 100 tergantung kesepakatannya. Semakin luas area persembunyiannya dibutuhkan waktu yang lebih lama dalam menghitung.

Saatnya kelompok polisi mencari jejak kelompok maling untuk menangkapnya. Setiap tanda panah yang sudah dilewati harus disilang agar tidak dilewati lagi untuk yang kedua kalinya. Dan, bila sudah tertangkap maka kelompok maling harus berjaga dan menjadi kelompok polisi demikian berganti-ganti. Tetapi, bila kelompok polisi tidak berhasil menemukan kelompok maling dan menyatakan menyerah, maka permainan dapat diulang lagi dan kelompok maling dapat ngumpet lagi untuk kedua kalinya.

Kelompok maling bisa dikatakan menang secara gemilang, bila seluruh anggota kelompoknya dapat sampai di markas tanpa ketahuan oleh kelompok polisi. Teman-teman akan tertawa kegirangan bila dapat mempencundangi kelompok polisi.

Yang paling menantang kalau sedang jadi kelompok polisi. Coz, kita tertantang untuk mencari jejak di perempatan. Nah, sisitu kita harus nentuin dan menebak kemana kelompok maling itu bersembunyi. Apakah keutara, ketimur, keselatan atau kebarat ? Kita juga harus pintar-pintar mengatur strategi. Kalau saya pas ada di kelompok polisi. Malingnya harus tertangkap.

Di rumah saya dulu ketika kecil di Karangsari, Parakan, Temanggung, permainan maling-malingan ini disebut juga permainan panah-panahan karena harus menggambar tanda panah setiap jalan yang dilaluinya. Ketika sedang sembunyi kadang ada teman saya yang tertawa cekikikan sehingga jadi ketahuan tempat persembunyian kami.

Saat ini sudah tidak saya temui lagi anak-anak di daerah kakek saya itu yang memainkan maling-malingan yang cukup mengasyikkan ini. Gila....!!! Rasanya unforgetable dan seru abiezz permainan waktu kecil saya ini.

Good luck & have a nice game

16 Februari 2009

Pingsut dan Hompimpah

By : Kelik Supriyanto

Dalam permainan anak tradisional atau dolanan. Sebelum sebuah permainan berlangsung, terlebih dahulu dilakukan undian untuk menentukan siapa yang berhak mulai bermain. Sistem yang digunakan yaitu Pingsut dan Hompimpah. Kedua sistem ini digunakan untuk menentukan siapa yang kalah dan siapa yang menang, hanya dengan menggunakan jari dan telapak tangan kita.

Pingsut yaitu dengan cara mengadu jari kedua pemain berdasarkan simbol setiap jari kita. Aturannya bahwa jempol merupakan simbol gajah. Jari telunjuk simbol manusia. Kelingking simbol semut. Semut akan kalah oleh manusia. Manusia kalah oleh gajah. Gajah kalah oleh semut karena menurut cerita kalau gajah dimasuki telinganya oleh semut maka gajah tersebut dapat gila atau bahkan bisa mati. Pasti karena gajah nggak punya jari, sehingga tidak bisa mengeluarkan semut yang masuk ke kupingnya, ya ? Kasihan gajah. Jari kelingking kalah oleh jari telunjuk. Jari telunjuk kalah oleh jempol. Jempol kalah oleh kelingking.

Gajah yang besar bisa kalah oleh semut yang kecil memberikan pelajaran bahwa sesuatu yang besar dan tidak tertandingi justru bisa dikalahkan oleh sesuatu yang kecil dan diremehkan. Makanya kalau sudah jadi orang besar dan terkenal jangan meremehkan orang kecil.

Peraturannya, jari manis dan jari tengah tidak boleh dimunculkan. Apabila terlanjur dikeluarkan maka dianggap tidak sah, demikian juga kalau dua jari yang ditampilkan juga dianggap tidak sah alias harus diulang. Menggunakan tangan kiri juga tidak sah karena dianggap tidak sopan, atau menyalahi aturan permainan.

Menurut teman dari Lombok, dia menggunakan istilah gunting untuk jari telunjuk dan jari tengah. Kertas untuk tangan terbuka lebar, dan batu untuk tangan mengepal. Kertas kalah oleh gunting, gunting kalah oleh batu dan batu kalah oleh kertas. Batu dapat dibungkus oleh kertas. Dan, gunting dilempar batu akan patah. Kertas dapat dipotong oleh gunting.

Hompimpah yaitu cara undian dengan memperlihatkan seluruh telapak tangan kita secara bersama-sama. Untuk pemenang apakah yang tengadah atau yang telungkup dilakukan dengan cara hompimpah secara bersama-sama. Setelah dihitung, yang paling sedikit dianggap sebagai pemenang, apakah yang telungkup atau yang tengadah tangannya. Kalau ternyata yang telungkup lebih sedikit maka tangan telungkup dinyatakan pemenang dan yang tengadah langsung kalah dan keluar dari arena. Kalau sekali main ternyata yang telungkup kebawah ada beberapa anak, maka hompimpah dilakukan terus sampai hanya ada satu anak pemenangnya. Biasanya kalau tinggal dua anak maka dia akan pingsut saja.

Kalau dalam alam demokrasi kita terutama sistem voting, yang banyaklah yang menang. Sedang dalam dunia permainan anak, yang sedikitlah yang dinyatakan menang dan berhak untuk menentukan aturan permainannya. Ini barangkali sebuah suri tauladan sejak dini bagi anak untuk bisa menghargai kelompok minoritas. Yang jumlahnya kecil dan tertindas oleh hegemoni mayoritas, seharusnya diberi hak untuk bersuara terlebih dahulu.

Ketika sedang pingsut maupun hompimpah, bila ada teman kita yang curang dengan melambatkan mengeluarkan tangannya agar tahu pilihan teman yang lain dan diprotes, maka undian harus diulang sampai benar-benar semua tangan pemain dikeluarkan secara bersamaan. Maka, undian dinyatakan adil, dan tidak perlu melibatkan Mahkamah Konstitusi segala.

Hompimpah alaihom gambreng
Mak Ijah pakai baju rombeng.....

Hompimpah alaihom gambreng
Kuda lari di atas genteng......

11 Februari 2009

Dolanan Anak dan Politisi Kita

By : Kelik Supriyanto

Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta yang berkapasitas 1200 penonton itu pada malam Rabu, 10 Pebruari 2009, penuh dengan orang-orang dewasa dan keluarga. Mereka sedang menonton pagelaran musik teater bertajuk Bocah Gugat, sebuah repertoar bermain dan bercermin dari dolanan anak tradisional yang mulai langka. Disini penonton diajak untuk belajar dari dolanan dan lagu anak tradisional yang sudah ditinggalkan oleh generasi anak jaman sekarang.

Lagu cublak-cublak suweng menggema di ruangan yang berAC itu. Beberapa anak kecil pada memainkan dolanan tradisional seperti jamuran, ular-ularan, dan engklek berkelompok. Diikuti oleh orang dewasa yang pingin juga bermain dolanan anak, anak-anak kecil itu berkerumun menontonnya. Sebagai gambaran bahwa lagu dan permainan anak tradisional itu sebenarnya milik mereka yang dewasa yang saat kanak-kanaknya memainkan permainan tersebut saat bulan purnama tiba. Sedang anak-anak yang lahir sekarang tidak mengalami saat-saat indah itu, mereka hanya mengenal permainan yang berbau teknologi seperti saat ini.

Selain menggabungkan musik tradional dan musik modern, pertunjukan ini juga memanfaatkan layar proyektor untuk menampilkan gambar kartun yang lucu berupa prosesi pemilu mulai kampanye sampai saat pencoblosan. Untuk mengkaitkan hubungan antara dolanan anak dengan peristiwa politik yang sedang terjadi di Indonesia saat ini.

Permainan diawali dengan menampilkan kursi yang diperebutkan oleh para pemain dolanan anak ini. Menyimbolkan bahwa sekarang sedang pada berebut kursi kekuasaan. Seperti para politisi kita yang sedang beramai-ramai ingin menjadi anggota dewan.

Lagu-lagu dolanan anak yang sudah jarang kita dengar ini dinyanyikan oleh anggota sanggar teater Adiluhung Tak diselingi celotehan-celotehan lucu yang cukup bisa memancing tawa penonton. Kelompok teater yang awalnya berdirinya merupakan siswa SMA Ibu Pawiyatan Taman Siswa Yogyakarta ini, sekarang cukup dikenal saat terpilih sebagai juara favorit dalam lomba musik kreatif Festival Kesenian Yogyakarta beberapa waktu yang lalu..

Dalam permainan Ketek Menek, setiap pemain akan berusaha mencari tempat yang tinggi agar tidak tertangkap oleh teman yang sedang jadi pengejar. "Kalau semua orang mencari tempat yang lebih tinggi atau mencari kedudukan semua, terus siapa yang mau dibawah. Siapa yang mau jadi rakyat kalau semua orang pada pingin berkuasa ?" teriak pemain senior menyindir.

Ketika anak-anak kecil sedang bermain, datanglah orang yang lebih dewasa sambil melarang anak-anak itu bermain Yoyo. "Anak-anak tidak boleh bermain Yoyo," ujarnya. "Lho, memangnya kenapa ?" tanya salah satu anak. "Main Yoyo khan permainan yang naik turun naik turun. Itu hanya boleh dilakukan oleh bapak dan ibu saja."

Atau, ketika sedang memainkan Jamuran dan tiba saat memainkan kata "jamur bebek" semua pemain harus menirukan perilaku bebek. Berbondong-bondong para pemain menuju arah suara tadi. Ketika ada teriakan "pembangunan" maka semua bebek itu pada wek...wek...menuju ke arah suara itu. Dan, ketika terdengar kata "demokrasi", maka semua bebek pada menuju ke arah suara tersebut. Mereka sedang menyindir perilaku masyarakat yang suka membebek perilakunya.

Diakhir cerita. Sebagai renungan dipertanyakan, apakah memang semua yang berasal dari barat selalu lebih baik, sehingga permainan anak yang berjiwa ketimuran ini ditinggalkan. Atau, permainan anak saat ini sebenarnya sedang diamainkan oleh para politisi kita. Bukankah pesta demokrasi merupakan sebuah dolanan anak yang bermetamorfosis bentuknya menjadi permainan politik yang kekanak-kanakan ?

Tekongan

By :‭ ‬M.‭ ‬Sofwan Hadi

“Te‭”‬,‭ ‬dibaca layaknya pengucapan‭ “‬tempe‭”‬.‭ ‬Permainan murah meriah—bahkan bisa dikatakan tak perlu mengeluarkan budget khusus‭—‬sekaligus membutuhkan keuletan dari para pemainnya.‭ ‬Selain itu,‭ ‬permainan ini pun melatih daya fisik para pemainnya.‭ ‬Sebab,‭ ‬sepanjang permainan permain harus berlari dan berkelit dengan cepat.‭ ‬Pemain yang mempunyai kemampuan berlari yang‭ “‬Siip‭” ‬sangat diperhitungkan.‭ ‬Permainan ini sudah terwariskan turun temurun di desa saya‭ di ‬Meger,‭ ‬Ceper,‭ ‬Klaten‭, Jawa Tengah, ‬entah sejak kapan.‭ ‬Sistem permaian ini,‭ ‬tidak berbeda jauh dengan aturan permaian petak umpet yang sangat fenomenal di‭ ‬Indonesia.‭ ‬Hanya saja media permainannya yang lain.

‬Pertama,‭ ‬dibutuhkan pemain lebih dari dua orang‭ (‬minimal dua orang‭)‬,‭ ‬tanah lapang,‭ ‬dan pecahan‭ ‬genteng yang disebut dengan‭ ‬wingko—masing-masing pemain mempunyai satu‭ ‬wingko.‭ ‬Selanjutnya,‭ ‬membuat lingkaran di tanah sebagai pusat permainan.‭ ‬Permainan dimulai dengan cara‭ ‬nuju‭ ‬(masing-masing pemain melemparkan‭ ‬wingko ke arah lingkaran dengan jarak tertentu‭)‬,‭ ‬untuk menentukan siapa yang akan menjadi penjaga.‭ ‬Pemain yang‭ ‬wingko-nya jatuh dengan jarak paling jauh dari lingkaran,‭ ‬dialah yang menjadi penjaga.

‬Kedua,‭ ‬saat sudah diperoleh siapa yang menjadi penjaga,‭ ‬sontak pemain lainnya langsung berlari‭ ‬mencari tempat persembunyian sembari penjaga menata‭ ‬wingko secara vertikal‭ (‬ditumpuk‭) ‬tepat di tengah lingkaran.‭ ‬Setelah selesai merapikan‭ ‬wingko yang berserakan,‭ ‬panjaga kemudian mencari pemain lainnya yang telah bersembunyi.‭ ‬Aturannya,‭ ‬bagi penjaga,‭ ‬ketika menemukan pemain yang bersembunyi,‭ ‬dia diwajibkan memekikan kata‭ “‬Tekong‭” ‬dan diikuti nama pemain yang ditemukan.‭ ‬Tidak selesai sampai di situ,‭ ‬penjaga harus menuju lingkaran tempat‭ ‬wingko ditumpuk dan disertai teriakan‭ “‬Gong‭”‬,‭ ‬tanda telah menyentuh lingkaran.

‭Dan proses menuju lingkaran inilah yang menarik,‭ ‬penjaga harus berjibaku,‭ ‬saling sikut,‭ ‬dalam suatu perlombaan lari menuju lingkaran dengan pemain yang di”tekong‭”‬.‭ ‬Sebab,‭ ‬apabila penjaga belum menyentuh lingkaran pemain mempunyai kesempatan untuk meruntuhkan kembali tatanan‭ ‬wingko.‭ ‬Itu artinya penjaga harus menata ulang‭ ‬wingko,‭ ‬dan pemain yang di”tekong”mempunyai kesempatan untuk bersembunyi lagi.‭ ‬Dan pemain lainnya pun boleh meruntuhkan tatanan‭ ‬wingko untuk membebaskan pemain yang tertangkap sekaligus melanggengkan pekerjaan si penjaga.‭ ‬Untuk itu,‭ ‬penjaga harus mengamankan tatanan‭ ‬wingko supaya tidak‭ ‬“dihancurkan‭”‬ pemain lainnya.

‭Dalam suatu permainan,‭ ‬sudah lazim seorang pemain menjadi penjaga‭ “‬abadi‭”‬.‭ ‬Hal ini disebabkan penjaga tidak dapat menemukan semua pemain.‭ ‬Untuk itulah,‭ ‬dibutuhkan kemampuan fisik yang‭ ‬fit,‭ ‬ulet dan lari yang cepat.‭ ‬Dan tidak jarang permainan digelar berkali-kali,‭ ‬dan berhari-hari dengan penjaga yang sama.‭ ‬permainan akan selesai ketika penjaga telah menemukan semua pemain atawa si penjaga ngambek.‭

03 Februari 2009

Yoyo

By : Kelik Supriyanto

Wacana permainan anak rupanya sedang disukai oleh para politisi Indonesia. Gara-gara ucapan Megawati Soekarnoputri yang mengkritisi kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dianggapnya seperti bermain yoyo. "Naik-turun naik-turun. Dilempar kesana kemari. Kelihatannya indah tapi pada dasarnya tak menentu," ujar Ketua Umum PDI Perjuangan ini dalam Rapat Kerja Nasional Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Solo, Jawa Tengah, 27 Januari 2009.

Ucapan Megawati ini langsung ditanggapi oleh Sutan Bathoegana. "Iya, tapi, permainan yoyo itu jauh lebih baik ketimbang Pemerintahan Megawati pada masa lalu yang saya umpamakan seperti permainan gasing. Kan yoyo naik turun, sedangkan gasing berputar-putar saja di tempat, malah melobangi tanah hingga rusak," ujar.Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR RI ini sengit.

Yoyo adalah permainan yang terdiri dari dua keping cakram yang berukuran sama dan dihubungkan dengan suatu sumbu. Tali tergulung ke dalam sumbu dan diujung yang lain diberi kaitan untuk dimasukkan ke jari tengah. Dengan melemparkannya maka tali akan terulur, bila seluruh tali sudah terjulur maka yoyo dapat kembali tergulung dan kembali ketangan.

Yoyo berasal dari Greece (negeri Yunani), sekitar 500 Sebelum Masehi. Yoyo pada awalnya terbuat dari kayu, logam, atau gerabah. Sudah menjadi kebiasaan, ketika seorang anak menuju dewasa ia akan mempersembahkan mainannya sewaktu masih muda kepada dewa. Sebuah jambangan dari periode ini menggambarkan seorang pemuda Yunani sedang memainkan permainan yoyo. Yoyo kuno ini sekarang masih tersimpan di Museum Nasional Athena.

Dalam catatan sejarah sekitar abad 16, para pemburu hewan dari Filipina biasa memanjat pohon dan mengikatkan tali ke batu sepanjang 20 feet untuk dilemparkan ke hewan buruan. Menurut Scientific American yang terbit tahun 1916, istilah yoyo berasal dari bahasa Filipina yang berarti "mari-mari" atau "ayo-ayo".

Membutuhkan ketrampilan untuk memainkan permainan yoyo ini. Dahulu saya perlu belajar ke teman yang mahir memainkannya, dan hanya teknik-teknik yang permainan sederhana saja yang bisa saya mainkan. Ada banyak variasi memainkan permainan ini.

Ada yang cukup dilempar ke bawah dan yoyo akan naik kembali ke tangan kita lagi, terus dilempar lagi. Bagi yang sudah jago ada yang dilempar mendatar, atau bahkan dilempar ke atas. Atau dilempar mendatar di permukaan tanah dan yoyo bisa kembali lagi ke tangan. Malah ada yang jahil dengan diarahkan atau dilemparkan ke anak-anak perempuan yang kebetulan menonton. Keasyikan permainan ini terletak seberapa mahir kita menunjukkan kebolehan kita sehingga membuat decak kagum teman-teman kita.

Seiring perkembangan waktu, permainan tradisional mulai surut. Anak-anak lebih menyukai permainan yang lebih modern semisal games komputer atau playstation. Atau pada ngumpul sama kakak-kakaknya didepan televisi pada memelototi sinetron. Malah anak-anak kecil sering terdengar menyanyikan lagu, "Kamu ketahuan pacaran lagi....Dengan dirinya, teman baikku...." Lagu cublak-cublak suweng sudah lenyap ditelan waktu.

Jaman memang sudah berubah.

27 Januari 2009

Ngeban

By : Muhammad R. Abdi

Waktu saya masih ingusan, Ini permainan paling kondang di kampung saya di Malang. Beberapa bocah, biasanya 3-5, berbaris bak pembalap di garis start. Lantas, ketika aba-aba dibunyikan semua berlari sembari menyorong ban dengan alat khusus. Masing-masing berusaha saling mendahului laiknya balap sungguhan. Rutenya keliling kampung, jalurnya bebas asalkan bisa sampai garis finish di lapangan kampung yang biasa kami sebut lambau. Kami menyebut permainan ini nge-ban.

Sebenarnya penyebutan ini asal saja. Boleh jadi karena memakai ban maka disebut nge-ban. Ada dua instrumen utama dalam permainan ini. Pertama, ban, biasanya ban bekas sepeda. Kedua, tongkat pengatur yang kami sebut cutik. Tongkat ini terbuat dari bekas gagang sapu, atau bisa juga dari pilahan bambu. Salah satu ujung tongkat dipasang penyorong yang terbuat dari potongan wadah sabun colek. Cara memainkan permainan ini sederhana, mula-mula ban disorong dengan tangan. Sebelum ban berhenti berputar, disorong dengan cutik. Begitu seterusnya sampai garis finish. Untuk mengerem, tinggal membalik muka cutik ke arah dalam (berlawanan denga arah putaran ban).Cutik juga berguna untuk mengendalikan arah dan laju ban.

Jikalau ingin ikut perlombaan, teknik dasar saja tak cukup. Di tingkat mahir, sang pengeban (sebut saja begitu) mampu melakukan teknik-teknik mutakhir seperti ngawang (mengangkat ban sampai melayang sembari tetap berputar, biasanya teknik ini untuk menghindari halangan tanpa harus mengubah jalur), nggenjot (menambah laju ban dengan sangat cepat tanpa harus kehilanga kendali), dan beberapa teknik yang belum diberi nama. Bahkan di tingkatan para juara, sebenarnya ini cuma rumor dan omongan bocah yang ingin terlihat keren, kualitas ban, bentuk tongkat, kemiringan antara ban dan cutik menjadi penentu kecepatan laju. Namun, menurut Mamek, teman saya yang sering juara, kemenangan ditentukan kepandaian pengeban mencari jalur termudah ke garis finish. Sayang, saya sering jadi pecundang kalau ngeban. Maklum, saya kerepotan mengatur laju ban sembari mengelap ingus yang tak henti keluar.

Artinya, modal suthang panjang saja tidak cukup. Perlu ketrampilan memainkan cutik agar tidak lepas dari ban. Justru anak-anak yang tidak setinggi saya malah bisa mengalahkan saya dalam ngeban.

25 Januari 2009

Meriam Karbit

By : Fajar Kelana

Malam lebaran merupakan malam yang paling meriah di kota saya, Pontianak, Kalimantan Barat. Pada malam takbiran itu, selalu diadakan acara membunyikan meriam dari kayu. Banyak sekali meriam kayu yang dihadapkan ke sungai Kapuas yang lebarnya 100 meteran. Tiap kampung rata-rata memasang 5 sampai 8 meriam. Kampung disekitar keraton yang rata-rata berisi orang arab melayu selalu membuat meriam yang paling besar dan banyak. Di kampung Beting ini, paling banyak dikunjungi anak-anak dari kampung disekitarnya.

Kayu sepanjang 5 sampai 8 meter dengan berdiameter 30 sampai 60 cm ini dilubangi, dililit dengan rotan agar tidak pecah, dibawah dikasih pembuangan air dan diatasnya dikasih lubang memasukkan karbit. Karbit dimasukkan, diberi air dan ditutup seluruh lubangnya dan tunggu 5 - 8 menit, agar menghasilkan uap gas yang mudah terbakar. Lubang dibuka meriam siap dinyalakan. Sehabis berbunyi duar......Air dikeluarkan dari bawah meriam dan disumpal lagi dengan sandal bekas.

Membunyikannya bergantian dengan meriam seberang sungai. Kodenya pakai lampu. Kalau lampu listrik sudah dimatikan berarti sudah mau dibunyikan. Lampu obornya kemudian diayun-ayunkan, siaplah dimainkan. Suaranya bersahut-sahutan sampai kedengaran keseluruh kota.

Meriam ini dibunyikan sepanjang malam bahkan sampai pagi. Pemainnya tua dan muda pada bergabung. Cowoklah yang boleh main, sedang ceweknya hanya menonton sambil menutup telinga. Saat sholat Ied pun kadang masih kedengaran suara Jedar-jedor. Meriam dari kayu ini setelah tidak dipakai direndam disungai dan digunakan untuk tahun depan. Kadang masih bisa digunakan lagi untuk tiga tahun lagi, kalau terbuat dari kayu yang sudah tua.


Ceritanya dulu pertama kali dibuat oleh Kasultanan Pontianak, Kadriyah. Digunakan untuk menakut-nakuti kapal Belanda yang mau merapat disana. Suaranya yang sangat keras mirip dengan suara meriam beneran. Ternyata Belanda tidak mudah ditakut-takuti, malah kembali lagi membawa pasukan yang lebih banyak.

Dari dulu saat saya kecil sampai sekarang sudah segede ini, acara membunyikan meriam karbit ini tetap diadakan, malah sekarang digunakan untuk menarik wisatawan datang.